Thursday, 20 June 2024

Jadi Istri & Ibu = Belajar & Bersabar

Suatu hari postingan ini lewat di beranda Instagramku, sebuah post dari akun @happyummiy. Setelah dibaca, relevan sekali dengan hidupku sehari-hari. Dan tentu relevan juga untuk semua perempuan berstatus istri dan ibu. Isi postnya begini :

--------------------------------

Istri.. Ibu..
Hari-harinya tentang dua hal ini


Belajar dan Bersabar


Belajar terus patuh kepada suami walau tak jarang dihadapkan dengan hal-hal yang mengecewakan diri.

Bersabar dengan kekurangan suami dan bersabar untuk terus mendoakan kebaikan untuknya.


Belajar memahami lebih dalam anak-anak kita, agar kita tidak mudah membanding-bandingkan mereka.

Bersabar menghadapi tangisan bahkan teriakannya.


Belajar untuk terus berupaya menjadi istri yang baik & fokus memenuhi hak pasangan.

Bersabar walau hak diri belum terpenuhi.


Belajar untuk terus berupaya menjadi ibu yang baik, yang pandai meregulasi emosi.

Bersabar sebab 'tubuhku adalah dunianya', walau tak jarang ibu lupa dengan dirinya.


Dan teruuuss..

Belajar & bersabar

Untuk banyak hal lainnya..


Ibu.. Tetaplah menjadi sinar di rumahmu, walau tak sekali air mata membasahi pipimu.

Allah melihat upayamu, Allah menilai lelahmu, untuk semua hak diri yang belum kamu dapatkan, kembalikan lah kepada Allah, agar Allah penuhi semua hakmu, tetaplah menjadi istri & ibu yang terus berupaya mempersembahkan yang terbaik untuk keluarga, walau mungkin sedikit sekali apresiasi yang terdengar di telinga..

-------------------------------

Hati jadi tenang ya kalo semuanya balik lagi ke Allah, seperti yg ditulis di bagian akhir. Ga mungkin yang kita rasain itu happy terus, namanya juga hidup. Ada up and down-nya. Ada kalanya aku merasa sangat lelah. Ada kalanya aku mau ninggalin semuanya sejenak.Terlebih lagi aku hanya IRT, jenuhnya ga cuma sebatas rutinitas aja. Tapi lebih sering ada di rumah juga bikin jenuh. Mau ngeluh juga ya gimana? Merasa sedih juga rasanya usahaku belum maksimal.

Jadi kalo lagi down, aku baca lagi tulisannya Happyummiy, biar aku kuat lagi. Yuk bisa yuk ikhlas jalaninnya. Boleh berhenti sejenak kalo lelah, luapin emosinya dengan cara yg baik, tapi jangan lupa buat bangkit lagi untuk kejar ridho Allah.

Sehat-sehat selalu buat semua perempuan yang menjalani peran sebagai istri & ibu 😊

Thursday, 21 September 2023

Memberdayakan Diri

Kayaknya hampir semua ibu pernah ya merasa dirinya 'hilang', terutama para ibu rumah tangga. Saya pun merasa seperti itu beberapa waktu lalu, saat anak kedua saya mulai masuk SD. Karena jam pulangnya cukup lama (di atas jam 12 siang) dan yang paling kecil lagi asyik main sendiri, saya jadi bingung mau ngapain.

Saat itu saya benar-benar merasa diri saya 'hilang'. Saya merasa tidak memiliki kemampuan tertentu atas dasar diri saya sendiri, bukan sebagai seorang ibu. Kalo ibu bekerja kan kemampuan atas dirinya sendiri diakui di kantor ya, kalo ibu rumah tangga tuh ga ada. Sungguh, seorang ibu rumah tangga tuh butuh pengakuan juga ya ternyata 😅

Sempet cari-cari info tentang Virtual Assistant, tapi sepertinya harus belajar lagi karena tetap butuh skill kan. Sempet cari info tentang freelancer juga, tapi seflexible apapun jam kerjanya kayaknya ga memungkinkan buat saya. Cukup frustrated juga saat itu, karena pengen banget melakukan sesuatu yang saya suka ngerjainnya dan cukup berguna. Dapet cuan bukan tujuan utama, yang penting saya bisa melakukan hal yang sesuai sama kemampuan saya sendiri. Sebagai seorang Olivia, bukan ibunnya anak-anak. Semoga ngerti yaa maksud saya..

Akhirnya memutuskan untuk join Shopee Affiliate dan serius bikin konten di aplikasi Lemon8. Lalu apakah rasa kehilangan jati diri itu hilang? Yup. Benerin lagi second account IG, bikin konten juga di situ. Tapi yang paling bikin semangat ya ngonten di Lemon8. FYI, Lemon8 itu semacam sosmed untuk sharing, Jadi isi kontennya tentang tips, review, sharing apapun. And it's definitly me! Saya merasa "oh oke, aku suka dan ini sih bisa aku lakuin". Di Lemon8 saya ga punya temen sama sekali, jadi ga ada followersnya. Cuma mikirnya, yaudah gpp yang penting aku bisa melakukan sesuatu aja. Ternyata insightnya baguus, apalagi kalo sharing bekal anak-anak, viewersnya bisa ribuan. Trus dikasih kesempatan buat join grup creator gitu, jadi bisa saling sharing, dapet temen baru, jadi punya followers juga. Ada campaign juga (berhadiah lho), jadi semangat banget bikin konten. Dan bener-bener ngasah kreativitasku sebagai diriku sendiri. Saya jadi ngerasa 'baru' lagi, melakukan hal di luar rutinitas sebagai ibu.

Satu hal yang kayaknya suatu saat nanti kalo ada kesmpatan mau banget buat belajar, yaitu voice over. Ga tau ya, kaliatannya seru aja gitu. Hahahaa.. Random banget kan.. Tapi semoga bisa terwujud sih, aamiin..

So, buat para ibu yang lagi ngerasa hilang jati dirinya, yuk bisa yukk.. Coba cari hal yang disuka & memungkinkan untuk dilakukan. Semangaaaatt 🙋

Thursday, 10 August 2023

Pesan untuk Anak-anakku Tentang Pasangan

Beberapa waktu lalu kakak cerita kalo temannya punya crush, kakak kelas. Kakak ditanya sih katanya ga punya, entah emang ga ada atau masih malu buat ngakuinnya. Tapi trus kepikiran buat ngasih wejangan ke anak-anak soal mencari pasangan. Berhubung usianya belum pas buat dikasih wejangan ini, jadi saya tulis di sini dulu deh ya, biar nanti kalo udah saatnya tinggal baca ulang. Biar ga lupa apa yg mau diomongin intinya mah 😄

------------------------------

Dear anak-anakku, Ibun punya pesan tentang mencari pasangan buat kalian ya. Semoga pesan Ibun ini bermanfaat buat kalian kelak.


Untuk kak Nay & Rania..

Carilah pria yang ibadah dan adabnya baik. Kalo ilmu agamanya baik juga, lebih oke lagi. Karena kalo pasangan kalian ibadah & adabnya baik, insyaaAllah mereka tau cara memperlakukan kalian dengan baik.

Jadi perempuan ga harus mengubur mimpi & cita-cita lho ya. Kalo kalian punya mimpi dan cita-cita yang tinggi, go ahead. Maka dari itu, cari pasangan yang bisa support kalian dengan tulus. Yang nantinya bisa bertukar peran dalam mengurus rumah tangga (anak & urusan rumah) saat kalian butuh waktu untuk mencapai mimpi kalian. Tapi tetap utamakan keluarga ya..


Untuk mas Arga..

Cari wanita yang ibadah dan adabnya baik juga. Yang mau dibimbing untuk mencapai ridho-Nya. Juga yang bisa support untuk segala kebaikan dan kewajiban yang harus mas lakukan. Carilah pasangan yang mau berjuang bersama untuk mencapai tujuan kalian.


Ibun doakan.. Semoga kak Nay, mas Arga dan Rania mendapatkan pasangan yang shalih/ shalihah, berakhlak baik, dan mampu mendukung satu sama lain. Aamiin..

-------------------------------

Saya dan suami masih banyak kekurangannya sebagai pasangan, karena itu mencoba kasih wejangan buat anak-anak dengan harapan hidup mereka jauh lebih baik nantinya. Boleh kan yaa sebagai ibu berharap yang terbaik buat anak-anaknya 😊

Wednesday, 5 July 2023

Overthinking

Yup, dulu saya itu anaknya overthinking banget. Yg kalo lagi kumat, bisa sampai mual & mules karena pikiran. Banyak hal yang bisa bikin saya overthinking, terutama penilaian orang lain terhadap saya.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ini faktor masa kecil saya. Dulu ibu saya suka bilang, "malu sama orang kalo berantakan, kalo ga bersih, ga rapi (dalam berpakaian), harus baik dan sopan, dll". Jadi saya berusaha tampak sempurna di mata orang lain. Saya berusaha untuk baik atau menyenangkan untuk orang lain, walaupun kadang sebenarnya saya ga mau. Dan akhirnya jadi ga enakan sama orang lain. Sebenarnya ga sepenuhnya salah ibu saya mendidik seperti itu, tapi saya ga belajar kapan harus bilang tidak, atau bodo amat sama penilaian orang lain. Jadi insecure sama diri sendiri kalo ga jadi orang baik dan berujung overthinking.

Tapi semakin dewasa (baca : tua) dan udah ngelewatin berbagai macam masalah, jadi sadar ngapain jadi orang yang overthinking. Kadang orang lain yg kita pikirin juga belum tentu mikirin kita, heeyy 😂

Sekarang udah bisa lebih menerima, bahwa orang lain bebas menilai kita seperti apa. Kalo mereka ga bisa terima kita ya gpp. Yg jalanin hidup kita ya kita sendiri, bukan orang lain. Pernah baca tulisannya mbak @ayankirma (on IG), katanya :

"Nggak semua orang akan tulus, mau atau bisa menyukaimu. dan itu nggak apa-apa. Nggak bisa dipaksa.. Karena kamu akan disukai, dicintai dan dihargai dengan tulus di tempat dan di hadapan orang-orang yang tepat. Pertahankan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia, selebihnya nggak usah terlalu dihayati dan dipedulikan. Ajak kerjasama jiwa dan raganya, biar dia selalu sehat karena masih banyak orang-orang baik dan hal-hal baik yang akan menunggumu".

Jadi sekarang kalo ada yg anggep saya jahat, ga perduli atau sifat negatif lainnya yaudah ga saya pikirin amat. Yg penting saya yakini apa yg saya lakukan ada alasannya, ga ujug-ujug mau jahat aja gitu. Kalo ada yg ngomongin jelek juga yaudah, ga perlu jelasin juga kenapa saya begitu. Kalo menurut amalannya Ali bin Abi Thalib mah ya, "Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yg menyukaimu tidak butuh itu. Dan yg membencimu tidak akan percaya itu". Mau saya jelasin gimana juga kalo ga suka ya dianggepnya alasan aja kan. Tapi kalo tulus sama saya ga perlu dijelasin juga tau sikap saya seperti itu kenapa (kalo ga tau pun nanya, ga suudzon ambil kesimpulan sendiri 😁).

------------------------------------

Pernah kejadian, saya dibilang cari muka. Karena diliatnya sekilas, ga keseluruhan peristiwanya gimana. Awalnya gemes sih, ky pengen jelasin kejadian yg sebenernya gimana. Kalo saya yg dulu pasti udah mual mikirin orang lain salah paham sama saya, tapi sekarang udah ga lagi. Demi kesehatan jiwa raga, kuhempaskann overthinking itu. Pokoknya cukup saya & Allah SWT yg tau persis apa yg terjadi. Lagian kalo dijelasin juga belum tentu percaya kan, lha wong mereka ga suka sama saya. Mau saya gimana juga salah aja di mata mereka mah.

------------------------------------

Yaa namanya juga hidup lah ya, banyak suka dukanya. Bukan tugas kita juga biar orang lain mau nerima kita. Ku cuma bisa bilang buat yg masih suka overthinking, ga usah dipikirin shayy. Yakin deh, hidup kita jadi lebih tenang dengan bodo amat sama hal-hal ky gitu. Fokus aja sama orang-orang yang sayang tulus sama kita, fokus sama hal-hal yg bikin kita happy, ga usah buang energi buat hal-hal negatif.

Terima kasih yaa udah baca keluh kesahku, see you on next post!

Wednesday, 22 March 2023

Bagaimana Respon Kita?

 



Beberapa waktu lalu lihat gambar di atas seliweran di feed IG saya. Tetiba aja pengen share pendapat saya tentang hal tersebut.

Menurut saya poin hal di atas betul, yaitu jangan komentar tentang hidup orang lain. Tapi respon si penerimanya menurut saya ga harus begitu..

Kalo lihat respon si penerima dari keempat cerita di atas jadinya kaya' ga bersyukur sama hidupnya ga sih? Misal case yang pertama, temannya bilang kalo gajinya terlalu kecil. Karena dia kurang bersyukur, lalu mengiyakan omongan temannya, protes lah dia ke bossnya. Padahal bisa juga kita merespon dengan, "itu kan menurut kamu, menurutku ini udah cukup kok". Pasti ga akan berakhir diPHK. Respon baik pasti akan merubah hasil dari ketiga cerita lainnya.

--------------------

Terkadang cerita hidup kita bergantung dari cara kita merespon pendapat atau sikap orang lain. Karena pada dasarnya hidup adalah pilihan, termasuk cara kita merespon pendapat orang lain tentang hidup kita. Dan jangan sampai kita jadi menyalahkan orang yang sayang atau perduli sama kita. Misal di case ketiga, ya kali cuma karena ga dibeliin hadiah suaminya ga sayang sama istrinya? Bentuk kasih sayang kan ga cuma hadiah, mungkin aja hal baik dari si suami bantuin istrinya dalam urusan rumah tangga. Gara-gara kemakan omongan orang lain, kita jadi ga bersyukur dan kebaikan dari orang yang sayang sama kita jadi ga keliatan.

Naudzubillah min dzalik.. Semoga kita selalu dijauhkan dari segala penyakit hati dan dijadikan hamba yang selalu bersyukur yaa 😊

Friday, 27 January 2023

Tentang Rezeki

Pernah denger ada yang bilang, "katanya ga punya duit, tapi kok bisa jalan-jalan?"
Ga bilang di depan muka saya langsung sih, tapi saya denger lah ada yang bilang begitu.

To be honest, kalo nabung khusus untuk jalan-jalan, ya emang ga ada. Pos pos dana dalam keluarga saya ada prioritasnya, dan untuk jalan-jalan sayangnya ga ada sisa 😂

Tapi.. yang namanya rezeki ga selalu dalam bentuk uang cash atau yang ada di tabungan kita kan yaa.. Alhamdulillahnya, akomodasi kalo saya dan keluarga jalan-jalan karena dapet fasilitas dari kantor suami. Hotel, kendaraan, main di theme park, selama ada di OTA kantor suami, ya dicover. Jadi keliatannya saya banyak duit kan karena bisa sering jalan-jalan, padahal mah gretong shayy..

"Tetep aja.. Makan, bensin, tolnya emang ga butuh duit?". Ya butuh laah.. Itu sih gimana pinter-pinternya kita ngatur aja. Tips liburan budget terbatas ala saya, pilih destinasi yang ga jauh-jauh amat. Jadi bensin sama tolnya ga mahal. Kalo makan, bisa lah diatur-atur. Entah bawa bekal yang gampang diolah, atau beli secukupnya dibagi sama-sama. Yang penting mah anak-anak, emak bapaknya gampil laah.. Tempat wisata, cari yang HTMnya ga pricey, tapi cukup lengkap jadi anak-anak tetep happy.

Tapi yasudah, orang lain mau berfikir gimana juga ya terserah aja. Setiap orang punya pendapat dan sudut pandangnya masing-masing. Toh yang jalanin hidup saya ya saya dan orang-orang terdekat saya 😊

--------------------

Btw, saya mau cerita tentang rezeki ini.

Saya itu orang yang percaya banget sama kekuatan doa. Kala itu suami dilema banget di kantor yang sebelumnya. Kalo resign ga tau mau kerja dimana, karena apply di tempat lain belum keliatan hasilnya. Tapi kalo tetep di kantor, kerjanya bertentangan banget sama hati nurani. Yang kita tau ga akan berkah kalo diterusin. Setelah pertimbangan yang cukup matang, akhirnya diputuskan resign aja. Walaupun hati ketar ketir banget, gimana buat hari-hari, gimana buat sekolah anak, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bismillah aja..

Doa saya yang utama : rezeki buat anak-anak ada. Buat sekolah, kebutuhan sehari-hari, kalo (amit-amit) mereka sakit dan juga buat nyenengin mereka (ajak main atau jalan-jalan). Yang penting anak-anak bisa hidup dengan baik dan cukup.

Setelah ngajuin surat resign, suami dapet interview di kantor yang sekarang. Yang ternyata OTA, grupnya perusahaan besar yang perduli sama kesejahteraan karyawannya. Dapet fasilitas yang ga main-main, hamdallah.. Sekarang gaji cukup buat kebutuhan anak-anak, dapet fasilitas akomodasi kalo mau jalan-jalan, asuransi kesehatannya juga oke banget (bisa ngerasain kelas VIP, jangan julid lagi yee, fasilitas kantor ini). Bersyukur bangeeettt Allah udah kabulin doa saya waktu itu.

--------------------

Intinya, jangan suudzon sama orang lain kalo yang keliatan wah tapi ga bisa kasih ini itu ke orang lain. Siapa tau ceritanya kaya' saya, dapet fasilitas dari kantor, yang mana emang ga harus ada uangnya. Kalo mau kasih ini itu kan emang harus ada uang yang kita pegang ya. Atau memang ada prioritas lain makanya ga bisa kasih ke orang lain.

Dah ah curhatnya, stay positive ya guys 😉

Friday, 22 April 2022

Luka Jiwa

Sebelum saya mulai cerita, disclaimer dulu nih ya biar ga salah paham..

Tujuan saya menulis ini bukan untuk menjelek-jelekkan ataupun membuka aib hidup seseorang dan keluarganya, juga bukan untuk menyalahkan pihak manapun. Pure mau sharing karena menurut saya cerita ini bisa jadi insight untuk kita yang punya keluarga atau teman yang mengalami hal ini. Karena saya yakin di luar sana juga banyak yang mengalami hal yang sama, tapi kita ga tau harus gimana..

----------

Orang terdekat saya ada masalah dengan keluarganya. Sejak awal hubungan dengan ayahnya memang kurang baik. Terlebih lagi ketika ibunya meninggal dunia, dia seakan menjauh dari ayahnya. Enggan bertemu atau sekedar mengangkat telepon ayahnya. Seolah dia bertahan bersikap layaknya ayah dan anak hanya karena ibunya..

Suatu ketika ayahnya sakit, perlu anak-anaknya untuk merawatnya. Tapi dia enggan berurusan dengan ayahnya, jadi hanya adik-adiknya yang merawat ayahnya. Karena satu dan lain hal, timbul lah konflik diantara kakak beradik ini. Saya kenal baik dengan adik-adiknya, jadi saya coba ajak sang kakak bicara dengan harapan bisa sebagai penengah diantara mereka. Selagi berdiskusi pecahlah emosinya saat itu, keluar semua perasaan yang dia pendam selama ini. Belasan tahun kenal dia, baru kali ini lihat dia sesedih itu. Entah kenapa hati saya pun ikut sakit mendengar ceritanya. Dan pertanyaan saya yang dulu kepo tentang dia dan keluarganya, akhirnya terjawab.

Dia bercerita, sejak kecil sering merasa diabaikan oleh ayahnya. Menurutnya, terlihat jelas sekali perlakuan antara dia dan adik-adiknya berbeda. Jujur, saya orang luar yang kenal dia dan keluarganya terkadang memang melihat perbedaan itu. Almarhum om nya pun mengakui perbedaan itu, tapi ya saya pikir mungkin dia saja yang terlalu terbawa perasaan. Karena perbedaan sikap orang tua terhadap anak-anaknya masih sering terjadi menurut saya. Katanya, dari kecil jika ada sesuatu terjadi dan bukan ulahnya tetap saja dia yang dihukum. Dia yang selalu disalahkan walaupun itu perbuatan adik-adiknya. Dihukumnya bukan hanya omelan, tapi juga hukuman fisik. Ternyata inilah jawaban kenapa dia dan dua adiknya tidak terlalu dekat. Yaa saat itu mereka masih kecil. Si kakak tidak bisa legowo menerima hukuman karena perbuatan adiknya, dan adiknya belum terpikirkan untuk membela kakaknya. Pasrah tapi hatinya terluka. Banyak dituntut sebagai anak pertama, tapi tidak diimbangi kasih sayang yang cukup. Ibaratnya harus mengerjakan ini itu tapi gajinya sedikit, bagaimana rasanya?

Saya pernah dengar cerita, menurut adik-adiknya salah satu alasan kenapa mereka tidak terlalu dekat karena sejak kecil si kakak suka pelit berbagi mainan atau barang. Marah jika mainannya dipinjam atau rusak. Jadi sejak kecil memang ada batasan diantara mereka. Dan cerita dari si kakak kenapa dia berbuat begitu, karena menurut dia hanya cara itu untuk mempertahankan haknya. Karena orang tuanya selalu, "udah kasih mainan ke adiknya, udah ngalah aja". Dipaksa untuk selalu mengalah dan tidak boleh mengeluh karena dia anak pertama. Dan ini jawaban lain dari pertanyaan saya, "kenapa sikapnya terkadang kurang menyenangkan?". Dia memang terkadang egois, bossy, keras kepala, tidak mau mengalah. Ya karena itu cara dia mempertahankan apa yang dia punya. Menurutnya kalau lemah dia akan kehilangan apa yang dia punya.

Lalu karena tidak diperlakukan dengan adil, dia jadi selalu membandingkan hal-hal lain antara dia dan adik-adiknya. Katanya, dia tidak bisa memilih mau kuliah dimana, ambil jurusan apa, bahkan ketika sudah kerja pun ayahnya ikut campur. Sedangkan adik-adiknya bisa memilih. Btw, dia kuliah tidak di Indonesia. Tentu permintaan dari ayahnya, bukan kemauan dia. Saya yakin menurut ayahnya itu yang terbaik untuk anaknya, tapi siapa kira menurut anaknya dia merasa 'dibuang'. Pertama kali ke luar negeri dan tidak kenal siapa pun, tapi dilepas begitu saja. Padahal maunya didampingi, ditemani. Toh ini juga bukan maunya dia. Pada akhirnya dia harus berjuang sendiri apa pun yang terjadi di sana. Banyak hal yang orang tuanya tidak tau kehidupan dia di sana bagaimana. Lulus dalam waktu 3.5 tahun dengan IPK bagus, bukan menandakan bahwa dia suka dan cocok dengan jurusan yang dia ambil. Tapi karena dia mau cepat selesai dan bisa kembali pulang.

----------

Saya pernah tanya, apakah dia tidak pernah mengutarakan isi hatinya kepada kedua orang tuanya? Bilang kalau dia tidak suka, tidak setuju, atau setidaknya orang tuanya mendengarkan apa pendapatnya. Ke ayahnya, tidak pernah bisa. Ke ibunya, pada akhirnya "udah nurut aja". Emosinya tidak pernah divalidasi. Itulah kenapa dia dikenal pemarah. Entah khawatir, perduli, cara menyampaikannya ya marah. Niatnya baik, tapi cara mengutarakannya kurang tepat. Jadi orang lain yang dituju tidak bisa menerimanya dengan baik. Sejujurnya, sebelum saya dengar perasaan dia yang sesungguhnya saya pun berfikir begitu. "Apaan sih, hal kecil aja marah sampai segitunya" atau "Bisa ga sih bilangnya baik-baik?". Tapi karena sudah tahu apa yang dia lalui, saya jadi bisa memahami maksud emosinya dia apa. Jadi saya tidak terlalu kesal menanggapinya. Dan hal baiknya, emosi dia pun membaik.

Dulu saya juga pernah tanya, kenapa dia tidak pernah betah di rumah. Jawaban dia dulu, "gak papa, asal ga bawa sendok juga ga bakal dicariin" sambil bercanda. Ternyata karena di rumah dia tidak merasa "di rumah". Ayahnya sering keluar, ibunya di kamar, adik-adiknya sibuk sendiri. Jadi dia merasa lebih baik main di luar dibanding ada di rumah. Saat kecil pun ketika Idul Fitri dia lebih memilih di rumah eyangnya, diajak pulang tidak mau. Dia merasa lebih nyaman di rumah eyangnya. Dan menurutnya, dia menemukan sosok ayah justru dari almarhum omnya. Katanya omnya hebat, tidak membeda-bedakan antara dia, adik-adiknya dan sepupunya. Kalau salah ya dimarahin sesuai porsinya, tapi juga diperhatikan dan didengarkan bagaimana perasaannya.

Saya yakin adik-adiknya pun punya kenangan kurang menyenangkan dari ayahnya. Hanya saja entah rasa sakit yang mereka terima tidak sedalam sang kakak, atau mereka sudah bisa melaluinya, menerima dan memaafkan ayahnya. Terus terang, sikap adik-adiknya terhadap ayahnya dulu jauh lebih santai dibanding sang kakak yang terbawa emosi. Cara adik-adiknya menyikapi orang lain atau suatu hal pun berbeda dengan sang kakak. Kalau dilihat dari kisah masa kecil sang kakak dan yang saya lihat sendiri sikap orang tua mereka, sepertinya adik-adiknya menerima kasih sayang yang lebih banyak dari orang tuanya. Yang sudah belajar ilmu parenting pasti paham sebab akibat sikap seseorang ya.

Saya akui, komunikasi di keluarganya sangat sangat kurang. Ya mungkin karena anak-anaknya tidak dibiasakan untuk mengutarakan pendapatnya. Jadi jika ada masalah selalu tidak pernah selesai. Selesai pun tidak benar-benar tuntas. Juga sang kakak ini, dibanding mengutarakan isi hatinya ke adik-adik dan keluarganya, dia lebih memilih diam. Menurutnya, lebih baik orang lain salah paham tentangnya ketimbang menyelesaikan semuanya. Karena menurut dia orang lain tidak akan pernah paham apa yang dia lalui dan rasakan. Yaah.. ada benarnya juga, tidak semua orang bisa menerima kita.  Tapi menurut saya lebih baik berdebat, mengutarakan isi hati masing-masing pihak, lalu menyelesaikannya bersama-sama. Pada akhirnya orang itu menerima atau tidak, setidaknya mereka tau apa isi hati kita. Sehingga tidak menerka-nerka atau suudzon terhadap orang itu.

----------

Lalu, apa yang bisa kita ambil dari kisah ini dan bagaimana menyikapi kerabat yang mengalami hal ini?

Ini menurut pendapat saya ya..

Pelajaran hidup yang bisa saya ambil adalah, bersikap adil ke semua anak. Karakter anak berbeda-beda, tapi kita tetap tidak boleh memberikan kasih sayang lebih banyak ke anak yang lebih baik perilakunya. Lalu biasakan anak berpendapat, dan kita sebagai orang tua biasakan mendengarkan anak-anak kita. Jangan pernah berhenti belajar tentang parenting, beruntung zaman sekarang bisa dengan mudah mendapat informasi tentang parenting. Katanya sih, anak-anak yang memiliki masa kecil yang bahagia kelak ketika dewasa juga lebih bahagia.

Itu pelajaran yang bisa diambil sebagai orang tua. Lalu sebagai anak, kalau kita memang memiliki luka masa kecil sebisa mungkin coba menerima, memafkan orang tua kita. I know, tidak semudah itu. Tiap orang pun berbeda, tidak bisa disamakan. Seperti kerabat saya ini, beberapa kali saya tanya "apa sih susahnya memafkan orang tua sendiri?". Tapi setelah saya cari tau tentang inner child, ternyata ya memang mudah buat kita, tapi belum tentu untuk orang yang melaluinya. But when you're ready to forgive, just do it. Mungkin orang tua kita juga mengalami masa kecil yang berat, dan zaman dulu susah untuk mendapat informasi tentang parenting, jadi mereka juga tidak tau harus bagaimana. Untuk masa kini, kita yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Mau hidup lebih bahagia? Berdamailah dengan masa lalu. Pasti akan butuh waktu, tapi tetap mencoba ya. Kalau tetap merasa sulit, konsultasi dengan ahlinya.

Dan ini opini saya tentang siblings. Dalam kisah kakak beradik ini, sejujurnya saya tidak melihat kasih sayang yang tulus antar saudara. Maaf kalau salah ya, ini pendapat saya sebagai orang lain. Mungkin karena sejak kecil mereka tidak dibiasakan untuk saling sayang, saling perduli dengan sangat tulus, dan mengungkapkan bahwa memang perduli. Mereka care ya karena mereka 'kakak adik'. Karena kalau kakak adik benar-benar saling sayang dengan tulus, sekesal-kesalnya atau sebenci-bencinya kita atas sikap saudara kita, ketika saudara kita dalam kesulitan kita akan tetap care. Apapun yang terjadi, akan tetap saling membantu. Atau setidaknya support dengan perhatian, show them that we really care. Dan ini tidak terjadi dalam keluarga ini. Sejujurnya, saya yang sedih lihatnya tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Terus bagaimana sikap kita menghadapi orang yang memiliki luka masa kecil. Tetap support dalam hal yang positif. Coba memahami dan tidak mengabaikan emosi dan perasaannya. Jangan pernah meremehkan dan membandingkan dengan orang lain. Doakan agar dilembutkan hatinya, mau membuka diri. Walaupun menurut kita sikapnya kurang tepat, tetap hargai dan hormati keputusannya. Juga sabar dan ikhlas..

Dalam kisah ini, orang lain pasti menilai sang kakak anak yang tidak berbakti, tidak tau terima kasih, tidak mau memaafkan; tanpa tau apa yang sudah dilaluinya selama bertahun-tahun. Atau melihat sang kakak ini seperti menghindari masalah; tanpa tau bagaimana dalam hatinya semua emosi berkecamuk. Jangan begitu kalau perduli dengan orang yang mengalami hal sulit ya, lain hal kalau memang tidak perduli. Jangan sampai kita berkata' "gitu aja ga bisa sih? Dia aja bisa" atau "sampai kapan mau menghindar terus? usaha dong". Bukannya membaik, bisa jadi perasaannya makin kacau karena dibandingkan dan didesak. Apapun sikapnya, hargailah. Dia pasti punya alasan untuk itu. Mungkin memang butuh waktu, ketimbang dipaksakan lukanya tidak akan sembuh-sembuh.

Saya pernah bertanya pada ahlinya, bagaimana menghadapi seseorang seperti ini, yang masih denial atas apa yang terjadi pada dirinya. Jawabannya, orang yang mengalami kisah seperti itu memang rentan dengan trust issue. Kita harus bisa jadi orang yang dipercaya olehnya, no judge. Jika sudah perlahan membaik, bisa diajak untuk konsultasi dengan ahlinya.

Komunikasi adalah koentji, for any relationships. Orang tua-anak, kakak-adik, suami-istri, sahabat. Bicara dan dengarkan, agar tidak ada salah paham dan bisa saling memahami.

----------

Begitulah kisahnya, semoga bisa saling mengambil hikmahnya ya. Kalau ada yang mau sharing bagaimana berhasil melalui luka inner child atau membantu orang lain melaluinya, boleh yaa.. Bisa comment atau DM by email ke saya.

Oh ya, satu hal lagi yang saya ambil hikmahnya. Jangan karena satu kesalahan seseorang lalu kita menganggap semua kebaikannya hilang dan orang itu jadi buruk di mata dan hati kita. Karena itu akan membuat kita jadi seorang pembenci. Tetapi lihatlah satu kebaikan diantara banyaknya keburukan orang itu, karena itu akan membuat kita jadi seorang pemaaf.

Thank you for reading, have a good day :)

Monday, 29 June 2020

Bayi Kegendutan

Haaii.. Apa kabar dengan 'New Normal'? Lagi-lagi bahas soal Covid-19 ya, hahahaa.. Yasudah lah, terserah masing-masing orang aja deehh..

Btw, sekarang saya control udah 2 minggu sekali, karena udah masuk trimester ketiga. Perasaan sih dulu control 2 minggu sekali pas udah masuk bulan ke-8, apa sekarang ketentuannya udah beda ya? Ya gpp sih, lebih baik kalo sering dicontrol. Cuma ga enak bayar biaya controlnya aja, wakakakk..
Bayi di perut gimana? Alhamdulillah semuanya baik, ga ada kendala di usia 7.5 bulan ini. Cuma BBJ-nya kelebihan aja. Rata-rata normal BBJ usia 30 minggu itu sekitar 1300 gr, nah ini bayinya 1800 gr. Jadi saya harus diet karbo sama gula. Kalo karbo sih emang udah ga banyak sejak bulan ke-5. Pas kurang protein itu, saya jadi banyakin protein ketimbang nasinya. Tapi emang sih, cemilan masih sering yang manis-manis. Jadi kayaknya kelebihan dari situ nih.

Sebenernya gpp juga sih, toh saya akan lahiran secara SC juga. Cuma katanya bisa memicu diabetes ya kalo ada keturunan? Belum sempet cari detail infonya sih. Jadi ya tetep dikurangi aja buat jaga-jaga. So far gula darah saya normal, cuma emang ada turunan. Semoga semuanya normal sih yaa.. Susyah cuy ngindarin makanan manis. Justru yang manis manis lebih menggiurkan, hihihii.. Padahal pas trimester 1 sama 2 sukanya yang gurih pedes, eh pas masuk trimester 3 malah suka yang manis manis.

Oiya, kali ini ada lilitan 1x di leher. Persis kakak sama masnya, semuanya kelilit. Karena tali plasentanya panjang. Berarti yang ini juga panjang, sampai kelilit lagi. Abis dari dalem perut semua pada ga bisa diem sih. Eh pas udah lahirnya juga gitu, muter teruuss. Hahahaa.. Dan 2 minggu lalu posisi udah bener, kepalanya di bawah. Walaupun melintang.. Kemarin pas USG kepalanya di atas lagi. Kok ya muter muter terus sih dek.. Yang penting tetep sehat dan aktif ya nak..

Sekian update kehamilan saya, semoga lancar terus sampai waktunya lahiran nanti. Aamiin..

Thursday, 18 June 2020

Konsumsi Protein Ketika Hamil

Sebenernya ga pas hamil aja sih ya tubuh kita butuh protein, cuma mau sharing aja nih bedanya sama kehamilan pertama dan kedua saya..

Jadi karena pas bulan ke 5 BBJ kurang, dan untuk boost BBJnya harus banyak makan protein, saya mulai konsumsi protein dalam jumlah yang lebih banyak dibanding biasanya. Dan makan protein setiap hari. Awalnya cuma telur aja satu butir sehari, trus lama-lama makan daging merah, ikan, dan bahan makanan lain yang mengandung protein tinggi. Alhamdulillah di bulan ke-6 BBJ udah normal.

Trus di bulan ke-7 BBJ lebih dari rata-rata usia kandungannya, sepertinya karena saya konsisten konsumsi protein tiap hari. Dan yang bedain sama kehamilan pertama dan kedua, BB saya ga naik begitu banyak tapi BBJnya naik. Inget banget pas masuk trimester ketiga, dulu itu BB saya naiknya cepet banget, tapi ke bayinya ga terlalu. Kebalikannya kalo hamil yang sekarang. Yang ini saya emang banyakin makan protein ketimbang karbonya sih. So, kesimpulan saya dan yang terjadi di saya adalah : kalo jumlah karbo atau gula lebih banyak, larinya ke badan saya. Tapi kalo konsumsi jumlah proteinnya lebih banyak, larinya ke bayinya. Telat banget kan baru realize sekarang, hahahaaa..

Pantesan liat artis yang pola makannya bener, pas hamil badannya segitu-gitu aja tapi BBJnya normal. Ternyata emang kuncinya di pola makan gengs.. Pas hamil kak Nay BB saya naik 25 kg, pas Arga naik 22 kg. Yang ketiga ini usia kandungan 7.5 bulan baru naik 13 kg. Sampai lahiran nanti ga sampai 20 kg sih kayaknya. Kayaknya yaaa.. Semoga konsisten tetep lebih banyak konsumsi protein dibanding karbo atau lainnya. Tapi saya tetep sering makan manis juga ngemilnya. Cuma kurang olahraga aja ini. Sejak pandemi mager banget mau keluar, karena sampai rumah kudu mandi dan bebersih kan.

Okeh, itu aja random thought saya kali ini. Untuk manfaat protein ketika hamil bisa googling aja ya. Hihihiii..

Tuesday, 2 June 2020

Hasil USG Fetomaternal

Aku mirip siapa nih? Mirip kakak Naya apa mas Arga? Hihihii..
Tiga kali hamil, baru kali ini USG Fetomaternal. Kalo ga karena harus cek posisi plasenta ga akan juga sih, hahahaa.. Etapi ternyata bisa liat detail banget ya, amazed saya. Semua organnya keliatan, sampai jantungnya udah terbentuk 4 ruang juga keliatan. Dan alhamdulillah semuanya normal dan baik. Bekas SCnya yang di dalam juga bagus, ga keliatan.

Trus plasentanya gimana? Alhamdulillaaaahh banget sekarang plasentanya udah bergeser ke atas. Semula di bagian bawah depan, sekarang di atas belakang. MasyaaAllah.. Beneran ya kekuatan do'a adalah segalanya. Selama 2 minggu saya, Panda, kakak dan masnya ngomong ke adik bayi juga. Saya ga expect dalam waktu 2 minggu bisa bergeser sejauh itu. Emang sih ya rahimnya membesar, tapi perut saya membesarnya ga sedrastis itu juga. Sayangnya ga bisa compare hasil USG before afternya, karena posisi pengambilan gambarnya beda. Bersyukur banget deh saya pokoknya, jadi lebih tenang mau aktivitas juga. Bisa tetep ngurusin anak-anak dengan leluasa, ga ketar ketir takut pendarahan.

Kemarin saya nanya ke dokternya, udah begini bisa bergeser lagi ga posisinya. Kata dokternya sih kemungkinannya kecil, karena usia kandungannya udah makin besar juga. Semoga semuanya berjalan aman dan lancar, baby inside juga sehat terus sampai waktunya nanti.

Oiya, mau sharing saya USGnya dimana, sama dokter siapa, dan biayanya yaa. Kali kali ada yang butuh referensi 😁
Saya USG Fetomaternalnya di RS Hermina Bekasi Barat, karena rekomendasi dari obgyn saya di sana. Untuk dokternya, sebenernya hampir semua obgyn di sana sub spesialis fetomaternal, cuma untuk USG feto itu cuma ada tiga dokter kalo ga salah yaa. Saya telfon ke call centernya untuk hari Sabtu cuma ada 2 dokter. Dr. Yudianto sama dr. Yuditya, karena tak tau dan tak cari info dulu ya random aja. Saya daftar untuk dr. Yudianto. Pas daftar via call center dapet nomer antrian 22, tapi pas hari H nomer antriannya per kedatangan. Per pasien cukup lama sih, mungkin karena emang periksanya detail yaa. Dokternya sih oke.. Ramah, detail, jelasin gimananya, humoris, enak buat konsultasi. Abis itu googling ternyata salah satu dokter rekomendasi ibu-ibu juga. So, mungkin bisa jadi dokter pilihan untuk yang mau cek di RS Hermina Bekasi Barat yaa..

Untuk biaya, kemarin habis Rp 1,123,000. Detailnya sih cuma untuk dokter sama USG aja, ga ada biaya adminnya. Untuk dokter sub spesialis Rp 394,000 dan USG 2D print feto Rp 729,000. Padahal cek 3D juga, dan print yang 3D satu lembar. Tapi ga ngerti di chargenya USG 2D feto aja.

Gitu deh cerita USG Fetomaternal ini. Yang penting sekarang ku legaaa.. Mudah-mudahan adik bayi sehat terus sampai waktunya tiba ya. Thank you for reading, semoga bermanfaat :)

Wednesday, 20 May 2020

Mirisnya Indonesiaku

Sedih ga sih liat berita tentang Covid-19 akhir-akhir ini? Pandemi belum berakhir tapi orang-orang cuek pergi ke tempat ramai. Dengan alasan bosen lah, perlu beli baju lebaran lah, tetep mudik lah, atau alasan apapun itu yang sebenernya masih bisa ditahan.

Kenapa ga bisa sabar sih, huhuhuu.. Yang mudik ga takut bawa virus ke keluarga di kampung halaman? Kan kasian, apalagi yang udah sepuh. Dan tujuan dilarangnya mudik biar penyebaran virusnya ga meluas. Trus yang pada pergi ke pasar, ada pula mall yang nekat buka trus rame pula orang-orang pada dateng. Sorry to say, tapi kemanaaa pikiran kalian?? Beneran pada ga takut terpapar virus ini ya? Entah ga perduli atau ga tau bahayanya?

Bayangin deh kalo kena virus Covid-19 ini. Apalagi kalo sampai ada komplikasi, harus dirawat di RS. Kalo Allah SWT masih ijinin hidup alhamdulillah, tapi kalo sampai meninggal, ga akan ketemu keluarga lagi lho. Dimakaminnya juga ga ada yang anterin, bener-bener sendirian melawan penyakitnya sampai ke liang lahat. Trus amit-amit kalo kita nularin virus ke orang lain. Emang ga ada rasa bersalah ya liat orang ketularan kita? Ga kasian juga sama tenaga medis yang udah berjuang? Mereka juga punya keluarga lho..

Kemana hati nurani masyarakat Indonesia ini.. Please lah jangan egois. Yang bosen bukan kalian aja kok, saya dan ribuan masyarakat lainnya yang rela diem di rumah juga bosen. Apalagi yang punya anak kecil, udah ga tau gimana lagi kasih pengertiannya, puter otak biar anak ga bosen. Emang pada ga mau pandemi ini berakhir ya?

Menurut saya ya, orang-orang Indonesia itu harus dikasih aturan yang jelas dan sangsi yang tegas. Karena kalo ngandelin kesadaran diri masing-masing individu mah wassalam deh. Banyak yang ga dipake otak sama hatinya. Cumaa.. saya juga ga yakin pemeritah bisa bener-bener tegas sama masyarakat. Tiap petinggi bertahan dengan egonya masing-masing, kasih aturan beda-beda, berubah-ubah, ga jelas. Masih mentingin urusan politik ketimbang liat kondisi yang sekarang. Nyawa cuy taruhannya..

Jadi yang masih waras, please yaa jangan kemana-mana kalo ga perlu perlu amat. Jangan ke tempat ramai cuma karena bosan, tetep dilakuin semua protokol kebersihannya. Memang umur udah ditentuin, tapi kan kita tetep harus ikhtiar semaksimal mungkin biar ga terpapar virusnya. Jangan egois, pikirin juga keluarga dan orang lain. Yang jelas kita harus kompak dan kerja sama buat ngelawan pandemi ini. Semoga kita tetep dikasih kesehatan ya, orang-orang yang ga perduli ya terserah lah..

Monday, 18 May 2020

Kemungkinan Plasenta Previa

Haii.. Cukup lama ga update blog karena kemageran yang luar biasa. Gimana puasa tahun ini guys? Berasa beda ya karena pandemi ini. Tapi yasudah dijalanin aja, dan yang penting kita tetep sehat semua. Aamiin..

Update kehamilan kali ini adalaaahh.. Plasentanya turun ke bawah, hiks.. Selalu dapet surprise tiap control dari adik bayi, hehehee.. No, I won't complain for this. Saya percaya setiap kehamilan, setiap anak pasti punya ceritanya sendiri. Apapun itu kita sebagai orang tua harus legowo jalaninnya kan. 

Hamil kali ini beneran bikin deg-degan tiap control. Selalu kepikiran, "gimana ya keadaannya kali ini?". Alhamdulillah air ketuban dan BB janin udah aman, detak jantung bayi normal. Kepala, lingkar perut, tulang paha, alhamdulillah normal. Eehh.. ndelalah plasentanya turun ke bawah. Ga nutupin jalan lahir sih, dan bukan kategori plasenta previa partialis juga. So far emang letaknya aja di bagian bawah rahim, low-lying istilahnya. Jadi kemarin dokternya nyaranin untuk USG Fetomaternal. Biar keliatan detailnya gimana. Karena walaupun saya ga akan melahirkan normal, tetep harus diliat persisnya gimana biar aman pas operasi SC.

Di dua kehamilan sebelumnya alhamdulillah ga ngalamin kendala yang berarti, tapi yang ini sungguh spesial. Pernah baca sekilas tentang plasenta previa, sekarang baca setiap artikel buat cari tau tentang hal ini. Ada beberapa hal yang ada di pikiran saya, dan ini poin-poinnya..

Akibatnya apa ya kalo plasentanya di bawah?
Semakin besar kehamilan, bisa mengakibatkan pendarahan. Jadi harus bedrest, ga boleh banyak beraktivitas. Karena kondisi rahim harus relaks, janinnya ga boleh menekan plasentanya. Trus saya langsung kepikiran, yang ngurus kakak sama masnya siapa. Huhuhuu.. Maunya ga ngerepotin siapa-siapa..

Penyebabnya apa ya? Apa ada yang salah di kehamilan ini?
Penyebabnya ga ada dan ga ada yang salah selama kehamilan ini, karena itu proses alami. Tapi ada beberapa faktor yang bikin kita beresiko mengalami plasenta previa ini. Untuk saya, faktor resikonya karena udah pernah operasi rahim, dua kali operasi SC.

Bisa ga ya plasentanya naik lagi, caranya gimana?
Bisa, dengan adanya mukzizat dari Allah SWT. Hehehee.. Jadi ya banyak berdoa aja, sama coba ajak ngobrol bayinya. Karena emang ga ada caranya. Dan di usia kehamilan 28 minggu biasanya udah netap, ga bisa bergeser lagi. Jadi menurut insting saya, saya masih ada waktu 3 minggu sampai usia kandungan 28 minggu nanti. Mau banyak berdoa aja biar bisa bergeser ke atas, karena banyak yang harus saya kerjain. Ga mungkin kalo harus bedrest, hikss..

Apa ya yang harus dilakuin?
Jangan capek-capek, jangan olahraga berat, kurangin berdiri sama jalan. Santai-santai aja kalo gitu yaa.. Aktivitas seperlunya aja, jangan berlebihan.

Kesimpulan dari artikel-artikel yang saya baca, ini belum bisa dibilang Plasenta Previa. Bisa ditetapkan begitu kalo usia kandungannya udah di 28 minggu. Makanya saya kasih judulnya 'kemungkinan', karena emang belum pasti. Nanti abis lebaran mau USG Fetomaternal dulu, akan diupdate lagi ya kelanjutannya. Minta doanya yaa man temans, semoga plasentanya bisa bergeser dan semua baik-baik aja sampai waktunya tiba. Aamiin.. Thank you for reading 😊

Thursday, 9 April 2020

Dapat PR Lagi di Usia Kehamilan 5 Bulan


Cerita soal kehamilan anak ketiga lagii.. Belakangan home learning kak Nay lebih santai, jadi mumpung buka laptop sekalian nulis deh. Hamil yang ketiga ini ada aja PRnya, hahahaa.. Perasaan dulu pas pertama sama kedua lancar-lancar aja. Beda anak beda cerita sih yaa..

Hari Selasa kemarin Arga harus vaksin ke RS, jadi sekalian lah control baby inside karena harusnya minggu depan jadwalnya control juga. Biar ga bolak balik RS, mengurangi keluar rumah ya kann. Emang sih, ada info kalo ga urgent banget, apapun itu sebisa mungkin ga ke dokter. Either dokter kandungan, dokter anak, dokter gigi, dan lainnya. Cuma ya ga tenang aja kalo waktunya control tapi ga dicek. Takut ada yang harus diperbaiki, masalahnya bayinya masih di dalem perut belum keliatan mata. We never know what happen inside. Dan bener aja kan, ada yang kurang..

Pas control kemarin di usia kandungan 19 weeks lebih satu hari. Alhamdulillah bayik sehat, cumaaa BBJnya kurang sedikit dan ukuran tulang pahanya juga agak kecil. Ga sesuai sama usia kandungannya. Sama air ketubannya juga kurang, huhuhuu.. Perasaan udah minum banyak banget tapi masih kurang aja. Tanya kan sama dokternya, boostnya gimana biar BBJnya naik. Harus banyak makan protein dan lemak. Telur dan alpukat kalo bisa makan tiap hari. Hmm.. sepertinya sebulan ini saya banyak makan yang tinggi kandungan karbo sama gulanya aja, hehehee..

Jadi PR kali ini memperbaiki pola makan. Banyakin protein, kurangin karbo sama gula (emang yang bener begini sih ya, hahahaa..). Minum air putih minimal 3.5 liter, syukur syukur bisa 6 liter per hari. Baiklah, demi buah hati harus diniatin. Bismillah bulan depan ga ada PR lagi ya dekk..

Sunday, 29 March 2020

#dirumahaja

Hai semuaa.. Gimana kabarnya setelah #dirumahaja hari ke 14 ini? Karena virus ini emang bikin semua rencana dan aktivitas sehari-hari terganggu ya. Tapi demi kebaikan kita semua, biar pandemi ini cepet berakhir, sebisa mungkin kita harus taat untuk tetep di rumah.

Di minggu pertama harus stay di rumah, qadarullah Arga harus dirawat selama 3 hari. Demam tinggi, stock obat penurun panas rectalnya kosong, terpaksa bawa ke UGD ketimbang jam 2.30 pagi cari apotik yang buka. Cek darah, ada infeksi di dalam tubuh. Sepertinya infeksi di pernafasan, karena batuk terus. Ini seminggu setelah dirawat pun masih batuk, baru coba obat untuk bronchitis (Arga ada riwayat pneumonia). Doakan cepet sehat yaa..

Gimana juga kabar ibu-ibu yang anaknya udah 2 minggu ini home learning? Pusiang yaa, hahahaa.. Serius deh, gemes banget ngajarin anak. Disuruh nulis rapi, kerjainnya agak cepet, ya kok santai aja. Kalo di sekolah kan ga mungkin santai dong ya, kan terbatas sama waktu sekolah. Di rumah belajar sama emaknya selow bener. Alhamdulillah baru satu anak yang diajarin, kalo ada 2 atau 3 berdiri semua rambut emaknya. Info dari sekolah kak Nay baru diperpanjag sampai 5 April, sementara Bekasi Depok sampai 14 April. Rumornya akan terus stay at home sampai lebaran ya? Gubernur Jawa Barat dan Jawa Tengah udah keluarin aturan ga boleh mudik juga buat ngurangin penyebaran di daerah. Semoga warga Indonesia paham yaa.. Sabar untuk ga ketemu sanak saudara dulu.

Tapi gemes juga liat warga masih keluyuran, masih ngumpul, nongkrong-nongkrong. Sedih juga sih, segitu santai atau tidak perdulinya, huhuhuu.. Padahal kan kepentingan bersama, bukan diri sendiri aja. Kalo yang sakit sendiri sih terserah yaa, masalahnya ini akan menularkan orang lain. Artinya bisa membahayakan orang lain, kok masih aja pada ga perduli. Apa masih kurang paham ya? Apalagi kalo sampai positif kena, amit amit sampai meninggal, itu bisa jadi pertemuan terakhir sama keluarga. Karena kalo meninggal pun ga bisa dilihat keluarga, ga bisa dimakamin sama keluarga, sedih ga sih.

Semoga pandemi ini segera berakhir ya.. Yuk bantu stop penyebarannya dengan #dirumahaja, yang nurut jangan ngeyel. Di sabar sabarin, demi kebaikan semua :)

Thursday, 26 March 2020

Hasil Transfusi Ferritin

Oke, sesuai janji saya post hasil transfusi waktu itu gimana. Mon maap yaa baru bisa post, entah rasanya waktu kurang aja. Buat ngerjain ini itu tau-tau udah malem lagi. Hahahaa.. Ini aja sambil nemenin anak home learning 😁

Alhamdulillah hasil transfusinya baguuuss.. Happy deh rasanya, karena naiknya jauh banget. Nilai normalnya 13-150. Pas awal kemarin saya di angka 11.1, 2 minggu setelah transfusi itu jadi 117.8. Banyak kann naiknya.. Entah pure hasil transfusi atau karena setelah transfusi itu saya rutin konsumsi makanan yang mengandung zat besi tinggi sih. Jangan ditanya maboknya makan hati sapi, bayam, dan lainnya. Demiii si buah hati kulakukan apa pun, hihihii..

Jadi kalo pas hamil HBnya rendah, trus nilai Ferritinnya juga kurang, no worries untuk transfusi ya. Hasilnya pun efektif banget kok. Efek setelah transfusi itu berasa banget di badan. Saya pun jadi berkurang pusingnya, malah belakangan ga pusing-pusing lagi. Tapi bisa jadi karena udah masuk trimester 2 sih, emang badan udah enakan juga kan.

Baiklah, sekian infonya yaa.. Semoga bermanfaat 😉

Monday, 24 February 2020

Transfusi Ferritin

Jadi, hasil lab di awal kehamilan kali ini nunjukkin kalo HB saya rendah. Nilainya 10.2 dari nilai minimal 11.7. Pantesan saya sering kliyengan, ga kayak hamil sebelumnya. Turunnya ga begitu jauh sih, cuma karena lagi hamil, janinnya butuh zat besi biar bisa berkembang dengan baik, akhirnya cek lab lagi untuk tau kadar Ferritinnya.

Ferritin apa sih? Saya juga baru denger ya kali ini, hahahaa.. Hasil baca-baca, ferritin itu protein dalam tubuh yang mengikat zat besi. Kalo mau tau kadar zat besi dalam tubuh, ya cek ferritin ini. Bisa dibilang juga dia cadangan zat besi dalam tubuh, yang dikeluarkan saat tubuh butuh zat besi. Nah hasil cek ferritin kemarin ternyata di bawah batas normal juga. Nilai ferritin saya 11.1 dari batas normal 13. Ga jauh banget juga turunnya, tapi dokter saya saranin untuk transfusi buat naikin ferritinnya. Yaa namanya orang tua ya, demi si janin dalem perut ini mau deh transfusi. Gimana pun butuh buat pembentukan organ dan sel tubuh kan, mau yang terbaik dong pastinya.

Cari-cari info proses, efek dan tentu harganya, masih belum banyak yang share. Jadi tujuan saya posting ini sharing buat yang mungkin butuh info soal transfusi ferritin ini yaa..

Nama obat untuk nambah zat besi ini namanya Venofer. Biasanya satu ampul isinya 5 ml, setara dengan 100 mg iron sucrose complex. Nanti obat ini dicairin (dicampur) sama NaCl. Kemarin saya 100 ml NaCl dicampur 2 ampul Venofer. Baca-baca ada yang 3 ampul juga, tergantung kebutuhannya kayaknya. Untuk prosesnya, kita akan dipasang selang infus. Pertama dikasih infus biasa dulu kira-kira setengah botol (50 ml), trus diganti sama campuran Venofer + NaCl tadi. Test dose dulu 15-30 menit, buat tes ada alergi sama obatnya atau ga. Kalo ga ada, kecepatan tetesannya dicepetin. Biar dicepetin juga, buat ngabisin 1 botol infus itu butuh waktu 3-4 jam 😂. Terserah deh mau sambil makan, main game, scrolling sosmed, nonton darakor, paling enak dibuat tidur. Hahahaa.. Karena cairannya agak kental, ga secair NaCl aja, berasa pas ngalir masuknya.

Abis itu, dibilas lagi deh sama sisa NaCl yang sebelumnya. Biar semua obatnya bener-bener masuk. Kalo saya, diresepin buat 4 ampul. Jadi transfusinya dua hari berturut-turut. Ga perlu nginep, selesai transfusi langsung pulang. Tapi tetep kena charge ruangan pemakaian kurang dari 6 jam. Ini pun saya kaget pas ditagih, kok banyak banget. Sementara obat dan alkes udah saya tebus duluan. Ga taunya kena charge ruangan juga, kirain gratis. Wakakakk.. *maunyaa

Untuk efeknya, yang saya baca bisa bikin mual bahkan sampai muntah. Makanya biasanya dikasih pas trimester 2. Kemarin saya transfusi pas usia kandungan 12 minggu 5 hari. Di saya sih ga ada efek apa-apa, cuma pas selesai agak pusing aja. Tapi itu efek tiduran selama 4 jam kayaknya. Eh sempet mual sedikit dengs, tapi yaudah gitu aja. Setelah beberapa jam transfusi, baru bedan berasa agak segeran dibanding sebelumnya. Cek kadar ferritinnya 2 minggu setelah transfusi, jadi nanti hasilnya gimana akan diupdate di postingan lainnya ya. Saya tetep jaga asupan zat besinya, at least satu hari makan yang mengandung zat besi tinggi minimal 100 gram. Plus sangobion satu kapsul sehari.

Terakhir, harganya. Gaes, ternyata abisnya banyak juga loh. Hahahaa.. Untung ada fasilitas kantor suami, jadi aman deh. Saya rinci yaa.. Harga mungkin beda-beda di tiap rumah sakit, dan harga ini per Februari 2020.
1. Venofer 5 ml/100 mg : per ampul Rp 276,210
2. Alkes (kebutuhan untuk pasang infus) : Rp 174,000
3. NaCl 100 ml : Rp 25,245
4. Ruang obeservasi < 6 jam : Rp 566,000
5. Jasa & administrasi : Rp 105,000
Total untuk satu hari (dengan 2 ampul Venofer) : Rp 1,381,730. Dua hari ya hampir 2.8 jeti. Pusiang kepala kan liat billnya, hahahaa..

Emang anak terakhir ini mahal bener dahh.. Sehat terus ya dek, bismillah jangan ada transfusi lagi. Baca artikel sih emang semakin tua kadar ferritinnya berkurang. Jadi ya karena faktor U juga kayaknya nih. Mungkin dulu pas hamil kak Nay sama Arga juga kurang, tapi ga berasa dan hasil HBnya masih oke. Karena dua bocah itu pas udah lahirnya defisiensi besi. Kata DSA-nya sih udah kurang zat besi dari saya hamil.

Tips buat yang persiapan hamil sama lagi hamil, coba banyakin makan makanan yang mengandung zat besi, buat jaga-jaga aja. Karena kalo lagi hamil ga akan kelebihan kayaknya ya, kan diserap sama janinnya juga. Semoga sharingnya bermanfaat yaa, thank you for reading 😉

Saturday, 4 January 2020

Hadiah Tahun Baru 2020

Bukan bukan.. Saya bukan mau ngomongin soal banjir di awal tahun ini, hehehee.. Btw alhamdulillah di rumah saya banjirnya cuma di jalan depan rumah aja, ga sampai masuk ke rumah. Sabar yaa buat teman-teman yang terkena bencana banjir, insyaaAllah diganti hal yang baik sama Allah SWT. Yang ga kena banjir bukan berarti enak, hanya saja bentuk ujian tiap orang beda-beda :)

Jadi, apa hadiahnya? InsyaaAllah saya mau punya anak ke-3 😁
Padahal ga ada rencana mau punya anak lagi dalam waktu dekat ini, karena masih banyak yang harus diselesaikan, dipertimbangkan, jadi nunda dulu sampai semuanya beres. Udah minta kayak gitu ke Allah SWT, tapi qodarullah dikasihnya sekarang. Yaudah, diterima aja.. Ya masa ditolak? Hahahaa.. Yakin aja sama Allah SWT, pasti udah direncakan dengan baik oleh-Nya. Bismillah aja dikasih rezeki yang berkah buat anak ke-3 ini.

Padahal ya, bisa dibilang saya itu ga gampang juga buat hamil. Waktu kak Nay sama Arga saya harus perbaiki pola hidup dulu baru bisa hamil. Harus rutin olahraga, jaga makanan yang sehat, dan butuh waktu 1-2 bulan baru berhasil. Setelah diingat-ingat, belakangan pola hidup saya dibilang sehat banget sih ga. Jarang banget olahraga, tapi hampir tiap hari beberes rumah. Mungkin sama kali ya? Hihihii.. Trus karena lagi mengencangkan ikat pinggang keuangan rumah tangga, jadi jarang banget jajan. Seringnya makan masakan rumah. Dan mungkin juga karena saya rutin minum infused water ala dr. Zaidul Akbar itu sih, karena badan jadi lebih sehat. Jadi sepertinya karena itu saya jadi bisa hamil..

Kalo suami sih emang katanya udah ngarep, karena perhitungannya dia biar sampai usia pensiun masih bisa nguliahin anak ke-3 ini. Kita punya doa yang beda untuk calon anak ini, dan ternyata doa suami yang dikabulin. Makanya pas liat test pack ada 2 garis, perasaan saya antara seneng tapi khawatir. Takut keadaan makin rumit, ga bisa kasih yang terbaik buat anak-anak, hehehee.. Tapi suami ngingetin, masa ga yakin sih sama Allah SWT. Tiap anak pasti ada rezekinya, doa yang banyak aja buat anak-anak, minta yang terbaik. So, lillahi ta'ala aja..

Diinget-inget lagi, baru setahunan selesai nyusuin, belum lama berhasil toilet training Arga, belum sempet bisa tidur nyenyak sejak hamil kak Nay. Udah mulai lagi aja fase-fase itu, hahahaa.. Beneran deh, saya belum pernah bisa tidur nyenyak lagi sejak tahun 2012. Emejing kann.. Oiya, ada cerita mitos yang kebetulan nih. Jadi sebelum ketauan hamil, ada burung dara jatuh ke area belakang rumah. Bibi yang nemuin, trus tiba-tiba bilang "mbak Puput mau punya anak lagi nih, ada burung jatoh di rumah". Reaksi saya ya cuma bingung, masa iya bisa begitu. Logikanya dimana kan, hahaa.. Etapi beneran hamil eike, jadi mitos yang kebetulan bukan? 😂

Bismillah, mudah-mudahan lancar semuanya. Doain sehat terus ya man teman, di doain juga yang mau punya momongan, semoga disegerakan. Tetap ikhtiar semaksimal mungkin, juga tetap sabar dan ikhlas yaa..

Friday, 27 December 2019

Gunung Mas, Puncak, Bogor

Holaaa.. Liburan sekolah udah jalan kemana nih? Kita mau ajak anak-anak liburan tapi maunya sesuatu yang baru, yang mereka belum pernah. Akhirnya minggu lalu kita ke Gunung Mas, Puncak. Ajak anak-anak tea walk, kan belum pernah tuh..

Saya terakhir ke Gunung Mas tahun 2010, tea walk bareng keluarga besar. Seinget saya di sana ya cuma area kebun teh, ada air terjunnya juga, untuk wahana lainnya apa ya.. Kolam renang aja kayaknya sih, sama penginapan. Nah sekarang ada area bermainnya juga, namanya INDJANIE HILLS. Tapi kemarin ga sempet cobain dan fotoin. Karena ngejar waktu dan rempes jagain bocah cilik cah lanang, hahahaa.. Soalnya jalannya masih berbatu dan tanah gitu kan, takut kesandung kalo ga dijagain. Jadi saya ambil foto dari webnya aja ya, btw bisa klik link ini buat ke webnya : INDJANIE HILLS.


Seru ya kelihatannya? Sayang ga sempet coba, mungkin next time kalo ke sana lagi. Di Indjanie Hills ini wahananya ada yang memacu adrenalin kayak offroad, ATV, paint ball, outbound, flying fox. Ada juga area buat selfie, mainan anak-anak, dan mini farm gitu. Sayang ga sempet liat harganya juga, tapi sepertinya masih terjangkau sih.

Oiya, harga untuk masuk ke area Gunung Masnya saya lupa persisnya. Tapi kemarin kita bayar Rp 54,000 untuk 3 orang plus 1 mobil. Alhamdulillah anak-anak happy banget jalan menyusuri kebun teh, seru dan indah pemandangannya. Untungnya anak-anak saya emang hobi jalan dan coba hal baru, jadi mereka ga ngeluh jalan gitu. Kita bolak balik dari parkiran ke parkiran lagi cuma 2.7 km, tapi lumayan juga ternyata. Karena jalannya naik turun, berbatu. Sempet main layangan juga di lapangan, lokasinya di area bawah. Kemarin beli layangan 20 ribu, bubble 10 ribu. Kakak sama Panda main layangan, ibun nemenin adek main bubble. 


Bisa jadi pilihan yaa guys kalo mau ajak anak-anak liburan. Murah meriah, bisa dapet pengalaman seru, plus cara oke ngabisin energi anak-anak. Apalagi buat anak kinestetik kayak anak-anak saya, hahahaa.. Nature is the best place for them 😃

Monday, 16 December 2019

Sekolahin Anak di Sekolah Swasta = Gaya Hidup?

Hasil gambar untuk school cartoon

Beberapa waktu lalu pernah denger percakapan ibu-ibu tentang sekolah anak. Percakapannya tentang kenapa sekolah swasta, khususnya SD, saat ini lebih laris dibanding sekolah negeri. Mereka bilang karena sekarang trendnya begitu. Menurut kalian para orang tua, gimana?

Kalo menurut saya, tergantung sudut pandang dan tujuan masing-masing orang sih ya. Saya pribadi pilih Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) buat kak Nay ya karena usia sekolah dasar perlu dibentuk karakternya melalui agama. Kan di rumah juga bisa dibangun karakter dan akhlaknya? Iya sih, rumah tetep sekolah pertama buat anak-anak. Tapi saya merasa ilmu agama saya belum cukup untuk itu. Hahahaa.. Dan yaa namanya anak-anak ya, kadang sama orang tuanya sendiri suka ga denger dikasih tau ini itu. Justru sama orang lain (guru di sekolah) mereka lebih nurut kan.

Dan menurut saya usia sekolah dasar itu penting banget sih dididik dasar agamanya, usia segitu masih gampang nyerepnya. Apa yang mereka pelajari di usia itu akan jadi dasar pegangan hidup ketika mereka makin dewasa. Jadi lebih baik pilih sekolah yang berbasis agama. Dengan catatan, ada biayanya. Tau sendiri dong ya sekolah swasta sekarang mihil bingit cuuyy.. SD aja udah puluhan juta biaya masuknya, SPP di atas 1 juta. Belum ekskul ples kegiatan lain. Tapi bukan berarti yang sekolah di swasta itu orang berduit, saya contohnya yang pas-pasan ini. Hihihii.. Buat saya dan suami, pendidikan anak itu nomer satu. Gimana pun caranya akan diusahain ada biayanya. Toh kalo kita berusaha untuk hal yang baik Allah SWT pasti kasih jalan kok..

Lagi pula, nyekolahin anak di sekolah yang baik agamanya salah satu ikhtiar kita biar anak-anak tumbuh jadi orang yang punya akhlak baik. Karena anak-anak adalah titipan yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Cieelah, hahahaa.. Udah kayak orang bener aja ibun dah 😂

Nanti pas SMP SMA juga anak-anak saya bakal disekolahin di sekolah negeri, usia segitu udah bisa pilah pilih mana yang baik mana yang buruk. Yang penting dasar agamanya udah ada. Eiya, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau men-judge pihak mana pun yaa.. Hanya sekedar opini aja, tiap orang tua tau mana yang terbaik buat anaknya kok. Dan apa pun pilihan itu ga akan salah selama niat dan tujuannya baik 😊