Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Thursday, 20 June 2024

Jadi Istri & Ibu = Belajar & Bersabar

Suatu hari postingan ini lewat di beranda Instagramku, sebuah post dari akun @happyummiy. Setelah dibaca, relevan sekali dengan hidupku sehari-hari. Dan tentu relevan juga untuk semua perempuan berstatus istri dan ibu. Isi postnya begini :

--------------------------------

Istri.. Ibu..
Hari-harinya tentang dua hal ini


Belajar dan Bersabar


Belajar terus patuh kepada suami walau tak jarang dihadapkan dengan hal-hal yang mengecewakan diri.

Bersabar dengan kekurangan suami dan bersabar untuk terus mendoakan kebaikan untuknya.


Belajar memahami lebih dalam anak-anak kita, agar kita tidak mudah membanding-bandingkan mereka.

Bersabar menghadapi tangisan bahkan teriakannya.


Belajar untuk terus berupaya menjadi istri yang baik & fokus memenuhi hak pasangan.

Bersabar walau hak diri belum terpenuhi.


Belajar untuk terus berupaya menjadi ibu yang baik, yang pandai meregulasi emosi.

Bersabar sebab 'tubuhku adalah dunianya', walau tak jarang ibu lupa dengan dirinya.


Dan teruuuss..

Belajar & bersabar

Untuk banyak hal lainnya..


Ibu.. Tetaplah menjadi sinar di rumahmu, walau tak sekali air mata membasahi pipimu.

Allah melihat upayamu, Allah menilai lelahmu, untuk semua hak diri yang belum kamu dapatkan, kembalikan lah kepada Allah, agar Allah penuhi semua hakmu, tetaplah menjadi istri & ibu yang terus berupaya mempersembahkan yang terbaik untuk keluarga, walau mungkin sedikit sekali apresiasi yang terdengar di telinga..

-------------------------------

Hati jadi tenang ya kalo semuanya balik lagi ke Allah, seperti yg ditulis di bagian akhir. Ga mungkin yang kita rasain itu happy terus, namanya juga hidup. Ada up and down-nya. Ada kalanya aku merasa sangat lelah. Ada kalanya aku mau ninggalin semuanya sejenak.Terlebih lagi aku hanya IRT, jenuhnya ga cuma sebatas rutinitas aja. Tapi lebih sering ada di rumah juga bikin jenuh. Mau ngeluh juga ya gimana? Merasa sedih juga rasanya usahaku belum maksimal.

Jadi kalo lagi down, aku baca lagi tulisannya Happyummiy, biar aku kuat lagi. Yuk bisa yuk ikhlas jalaninnya. Boleh berhenti sejenak kalo lelah, luapin emosinya dengan cara yg baik, tapi jangan lupa buat bangkit lagi untuk kejar ridho Allah.

Sehat-sehat selalu buat semua perempuan yang menjalani peran sebagai istri & ibu 😊

Thursday, 21 September 2023

Memberdayakan Diri

Kayaknya hampir semua ibu pernah ya merasa dirinya 'hilang', terutama para ibu rumah tangga. Saya pun merasa seperti itu beberapa waktu lalu, saat anak kedua saya mulai masuk SD. Karena jam pulangnya cukup lama (di atas jam 12 siang) dan yang paling kecil lagi asyik main sendiri, saya jadi bingung mau ngapain.

Saat itu saya benar-benar merasa diri saya 'hilang'. Saya merasa tidak memiliki kemampuan tertentu atas dasar diri saya sendiri, bukan sebagai seorang ibu. Kalo ibu bekerja kan kemampuan atas dirinya sendiri diakui di kantor ya, kalo ibu rumah tangga tuh ga ada. Sungguh, seorang ibu rumah tangga tuh butuh pengakuan juga ya ternyata 😅

Sempet cari-cari info tentang Virtual Assistant, tapi sepertinya harus belajar lagi karena tetap butuh skill kan. Sempet cari info tentang freelancer juga, tapi seflexible apapun jam kerjanya kayaknya ga memungkinkan buat saya. Cukup frustrated juga saat itu, karena pengen banget melakukan sesuatu yang saya suka ngerjainnya dan cukup berguna. Dapet cuan bukan tujuan utama, yang penting saya bisa melakukan hal yang sesuai sama kemampuan saya sendiri. Sebagai seorang Olivia, bukan ibunnya anak-anak. Semoga ngerti yaa maksud saya..

Akhirnya memutuskan untuk join Shopee Affiliate dan serius bikin konten di aplikasi Lemon8. Lalu apakah rasa kehilangan jati diri itu hilang? Yup. Benerin lagi second account IG, bikin konten juga di situ. Tapi yang paling bikin semangat ya ngonten di Lemon8. FYI, Lemon8 itu semacam sosmed untuk sharing, Jadi isi kontennya tentang tips, review, sharing apapun. And it's definitly me! Saya merasa "oh oke, aku suka dan ini sih bisa aku lakuin". Di Lemon8 saya ga punya temen sama sekali, jadi ga ada followersnya. Cuma mikirnya, yaudah gpp yang penting aku bisa melakukan sesuatu aja. Ternyata insightnya baguus, apalagi kalo sharing bekal anak-anak, viewersnya bisa ribuan. Trus dikasih kesempatan buat join grup creator gitu, jadi bisa saling sharing, dapet temen baru, jadi punya followers juga. Ada campaign juga (berhadiah lho), jadi semangat banget bikin konten. Dan bener-bener ngasah kreativitasku sebagai diriku sendiri. Saya jadi ngerasa 'baru' lagi, melakukan hal di luar rutinitas sebagai ibu.

Satu hal yang kayaknya suatu saat nanti kalo ada kesmpatan mau banget buat belajar, yaitu voice over. Ga tau ya, kaliatannya seru aja gitu. Hahahaa.. Random banget kan.. Tapi semoga bisa terwujud sih, aamiin..

So, buat para ibu yang lagi ngerasa hilang jati dirinya, yuk bisa yukk.. Coba cari hal yang disuka & memungkinkan untuk dilakukan. Semangaaaatt 🙋

Wednesday, 5 July 2023

Overthinking

Yup, dulu saya itu anaknya overthinking banget. Yg kalo lagi kumat, bisa sampai mual & mules karena pikiran. Banyak hal yang bisa bikin saya overthinking, terutama penilaian orang lain terhadap saya.

Setelah saya pikir-pikir, mungkin ini faktor masa kecil saya. Dulu ibu saya suka bilang, "malu sama orang kalo berantakan, kalo ga bersih, ga rapi (dalam berpakaian), harus baik dan sopan, dll". Jadi saya berusaha tampak sempurna di mata orang lain. Saya berusaha untuk baik atau menyenangkan untuk orang lain, walaupun kadang sebenarnya saya ga mau. Dan akhirnya jadi ga enakan sama orang lain. Sebenarnya ga sepenuhnya salah ibu saya mendidik seperti itu, tapi saya ga belajar kapan harus bilang tidak, atau bodo amat sama penilaian orang lain. Jadi insecure sama diri sendiri kalo ga jadi orang baik dan berujung overthinking.

Tapi semakin dewasa (baca : tua) dan udah ngelewatin berbagai macam masalah, jadi sadar ngapain jadi orang yang overthinking. Kadang orang lain yg kita pikirin juga belum tentu mikirin kita, heeyy 😂

Sekarang udah bisa lebih menerima, bahwa orang lain bebas menilai kita seperti apa. Kalo mereka ga bisa terima kita ya gpp. Yg jalanin hidup kita ya kita sendiri, bukan orang lain. Pernah baca tulisannya mbak @ayankirma (on IG), katanya :

"Nggak semua orang akan tulus, mau atau bisa menyukaimu. dan itu nggak apa-apa. Nggak bisa dipaksa.. Karena kamu akan disukai, dicintai dan dihargai dengan tulus di tempat dan di hadapan orang-orang yang tepat. Pertahankan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia, selebihnya nggak usah terlalu dihayati dan dipedulikan. Ajak kerjasama jiwa dan raganya, biar dia selalu sehat karena masih banyak orang-orang baik dan hal-hal baik yang akan menunggumu".

Jadi sekarang kalo ada yg anggep saya jahat, ga perduli atau sifat negatif lainnya yaudah ga saya pikirin amat. Yg penting saya yakini apa yg saya lakukan ada alasannya, ga ujug-ujug mau jahat aja gitu. Kalo ada yg ngomongin jelek juga yaudah, ga perlu jelasin juga kenapa saya begitu. Kalo menurut amalannya Ali bin Abi Thalib mah ya, "Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yg menyukaimu tidak butuh itu. Dan yg membencimu tidak akan percaya itu". Mau saya jelasin gimana juga kalo ga suka ya dianggepnya alasan aja kan. Tapi kalo tulus sama saya ga perlu dijelasin juga tau sikap saya seperti itu kenapa (kalo ga tau pun nanya, ga suudzon ambil kesimpulan sendiri 😁).

------------------------------------

Pernah kejadian, saya dibilang cari muka. Karena diliatnya sekilas, ga keseluruhan peristiwanya gimana. Awalnya gemes sih, ky pengen jelasin kejadian yg sebenernya gimana. Kalo saya yg dulu pasti udah mual mikirin orang lain salah paham sama saya, tapi sekarang udah ga lagi. Demi kesehatan jiwa raga, kuhempaskann overthinking itu. Pokoknya cukup saya & Allah SWT yg tau persis apa yg terjadi. Lagian kalo dijelasin juga belum tentu percaya kan, lha wong mereka ga suka sama saya. Mau saya gimana juga salah aja di mata mereka mah.

------------------------------------

Yaa namanya juga hidup lah ya, banyak suka dukanya. Bukan tugas kita juga biar orang lain mau nerima kita. Ku cuma bisa bilang buat yg masih suka overthinking, ga usah dipikirin shayy. Yakin deh, hidup kita jadi lebih tenang dengan bodo amat sama hal-hal ky gitu. Fokus aja sama orang-orang yang sayang tulus sama kita, fokus sama hal-hal yg bikin kita happy, ga usah buang energi buat hal-hal negatif.

Terima kasih yaa udah baca keluh kesahku, see you on next post!

Friday, 22 April 2022

Luka Jiwa

Sebelum saya mulai cerita, disclaimer dulu nih ya biar ga salah paham..

Tujuan saya menulis ini bukan untuk menjelek-jelekkan ataupun membuka aib hidup seseorang dan keluarganya, juga bukan untuk menyalahkan pihak manapun. Pure mau sharing karena menurut saya cerita ini bisa jadi insight untuk kita yang punya keluarga atau teman yang mengalami hal ini. Karena saya yakin di luar sana juga banyak yang mengalami hal yang sama, tapi kita ga tau harus gimana..

----------

Orang terdekat saya ada masalah dengan keluarganya. Sejak awal hubungan dengan ayahnya memang kurang baik. Terlebih lagi ketika ibunya meninggal dunia, dia seakan menjauh dari ayahnya. Enggan bertemu atau sekedar mengangkat telepon ayahnya. Seolah dia bertahan bersikap layaknya ayah dan anak hanya karena ibunya..

Suatu ketika ayahnya sakit, perlu anak-anaknya untuk merawatnya. Tapi dia enggan berurusan dengan ayahnya, jadi hanya adik-adiknya yang merawat ayahnya. Karena satu dan lain hal, timbul lah konflik diantara kakak beradik ini. Saya kenal baik dengan adik-adiknya, jadi saya coba ajak sang kakak bicara dengan harapan bisa sebagai penengah diantara mereka. Selagi berdiskusi pecahlah emosinya saat itu, keluar semua perasaan yang dia pendam selama ini. Belasan tahun kenal dia, baru kali ini lihat dia sesedih itu. Entah kenapa hati saya pun ikut sakit mendengar ceritanya. Dan pertanyaan saya yang dulu kepo tentang dia dan keluarganya, akhirnya terjawab.

Dia bercerita, sejak kecil sering merasa diabaikan oleh ayahnya. Menurutnya, terlihat jelas sekali perlakuan antara dia dan adik-adiknya berbeda. Jujur, saya orang luar yang kenal dia dan keluarganya terkadang memang melihat perbedaan itu. Almarhum om nya pun mengakui perbedaan itu, tapi ya saya pikir mungkin dia saja yang terlalu terbawa perasaan. Karena perbedaan sikap orang tua terhadap anak-anaknya masih sering terjadi menurut saya. Katanya, dari kecil jika ada sesuatu terjadi dan bukan ulahnya tetap saja dia yang dihukum. Dia yang selalu disalahkan walaupun itu perbuatan adik-adiknya. Dihukumnya bukan hanya omelan, tapi juga hukuman fisik. Ternyata inilah jawaban kenapa dia dan dua adiknya tidak terlalu dekat. Yaa saat itu mereka masih kecil. Si kakak tidak bisa legowo menerima hukuman karena perbuatan adiknya, dan adiknya belum terpikirkan untuk membela kakaknya. Pasrah tapi hatinya terluka. Banyak dituntut sebagai anak pertama, tapi tidak diimbangi kasih sayang yang cukup. Ibaratnya harus mengerjakan ini itu tapi gajinya sedikit, bagaimana rasanya?

Saya pernah dengar cerita, menurut adik-adiknya salah satu alasan kenapa mereka tidak terlalu dekat karena sejak kecil si kakak suka pelit berbagi mainan atau barang. Marah jika mainannya dipinjam atau rusak. Jadi sejak kecil memang ada batasan diantara mereka. Dan cerita dari si kakak kenapa dia berbuat begitu, karena menurut dia hanya cara itu untuk mempertahankan haknya. Karena orang tuanya selalu, "udah kasih mainan ke adiknya, udah ngalah aja". Dipaksa untuk selalu mengalah dan tidak boleh mengeluh karena dia anak pertama. Dan ini jawaban lain dari pertanyaan saya, "kenapa sikapnya terkadang kurang menyenangkan?". Dia memang terkadang egois, bossy, keras kepala, tidak mau mengalah. Ya karena itu cara dia mempertahankan apa yang dia punya. Menurutnya kalau lemah dia akan kehilangan apa yang dia punya.

Lalu karena tidak diperlakukan dengan adil, dia jadi selalu membandingkan hal-hal lain antara dia dan adik-adiknya. Katanya, dia tidak bisa memilih mau kuliah dimana, ambil jurusan apa, bahkan ketika sudah kerja pun ayahnya ikut campur. Sedangkan adik-adiknya bisa memilih. Btw, dia kuliah tidak di Indonesia. Tentu permintaan dari ayahnya, bukan kemauan dia. Saya yakin menurut ayahnya itu yang terbaik untuk anaknya, tapi siapa kira menurut anaknya dia merasa 'dibuang'. Pertama kali ke luar negeri dan tidak kenal siapa pun, tapi dilepas begitu saja. Padahal maunya didampingi, ditemani. Toh ini juga bukan maunya dia. Pada akhirnya dia harus berjuang sendiri apa pun yang terjadi di sana. Banyak hal yang orang tuanya tidak tau kehidupan dia di sana bagaimana. Lulus dalam waktu 3.5 tahun dengan IPK bagus, bukan menandakan bahwa dia suka dan cocok dengan jurusan yang dia ambil. Tapi karena dia mau cepat selesai dan bisa kembali pulang.

----------

Saya pernah tanya, apakah dia tidak pernah mengutarakan isi hatinya kepada kedua orang tuanya? Bilang kalau dia tidak suka, tidak setuju, atau setidaknya orang tuanya mendengarkan apa pendapatnya. Ke ayahnya, tidak pernah bisa. Ke ibunya, pada akhirnya "udah nurut aja". Emosinya tidak pernah divalidasi. Itulah kenapa dia dikenal pemarah. Entah khawatir, perduli, cara menyampaikannya ya marah. Niatnya baik, tapi cara mengutarakannya kurang tepat. Jadi orang lain yang dituju tidak bisa menerimanya dengan baik. Sejujurnya, sebelum saya dengar perasaan dia yang sesungguhnya saya pun berfikir begitu. "Apaan sih, hal kecil aja marah sampai segitunya" atau "Bisa ga sih bilangnya baik-baik?". Tapi karena sudah tahu apa yang dia lalui, saya jadi bisa memahami maksud emosinya dia apa. Jadi saya tidak terlalu kesal menanggapinya. Dan hal baiknya, emosi dia pun membaik.

Dulu saya juga pernah tanya, kenapa dia tidak pernah betah di rumah. Jawaban dia dulu, "gak papa, asal ga bawa sendok juga ga bakal dicariin" sambil bercanda. Ternyata karena di rumah dia tidak merasa "di rumah". Ayahnya sering keluar, ibunya di kamar, adik-adiknya sibuk sendiri. Jadi dia merasa lebih baik main di luar dibanding ada di rumah. Saat kecil pun ketika Idul Fitri dia lebih memilih di rumah eyangnya, diajak pulang tidak mau. Dia merasa lebih nyaman di rumah eyangnya. Dan menurutnya, dia menemukan sosok ayah justru dari almarhum omnya. Katanya omnya hebat, tidak membeda-bedakan antara dia, adik-adiknya dan sepupunya. Kalau salah ya dimarahin sesuai porsinya, tapi juga diperhatikan dan didengarkan bagaimana perasaannya.

Saya yakin adik-adiknya pun punya kenangan kurang menyenangkan dari ayahnya. Hanya saja entah rasa sakit yang mereka terima tidak sedalam sang kakak, atau mereka sudah bisa melaluinya, menerima dan memaafkan ayahnya. Terus terang, sikap adik-adiknya terhadap ayahnya dulu jauh lebih santai dibanding sang kakak yang terbawa emosi. Cara adik-adiknya menyikapi orang lain atau suatu hal pun berbeda dengan sang kakak. Kalau dilihat dari kisah masa kecil sang kakak dan yang saya lihat sendiri sikap orang tua mereka, sepertinya adik-adiknya menerima kasih sayang yang lebih banyak dari orang tuanya. Yang sudah belajar ilmu parenting pasti paham sebab akibat sikap seseorang ya.

Saya akui, komunikasi di keluarganya sangat sangat kurang. Ya mungkin karena anak-anaknya tidak dibiasakan untuk mengutarakan pendapatnya. Jadi jika ada masalah selalu tidak pernah selesai. Selesai pun tidak benar-benar tuntas. Juga sang kakak ini, dibanding mengutarakan isi hatinya ke adik-adik dan keluarganya, dia lebih memilih diam. Menurutnya, lebih baik orang lain salah paham tentangnya ketimbang menyelesaikan semuanya. Karena menurut dia orang lain tidak akan pernah paham apa yang dia lalui dan rasakan. Yaah.. ada benarnya juga, tidak semua orang bisa menerima kita.  Tapi menurut saya lebih baik berdebat, mengutarakan isi hati masing-masing pihak, lalu menyelesaikannya bersama-sama. Pada akhirnya orang itu menerima atau tidak, setidaknya mereka tau apa isi hati kita. Sehingga tidak menerka-nerka atau suudzon terhadap orang itu.

----------

Lalu, apa yang bisa kita ambil dari kisah ini dan bagaimana menyikapi kerabat yang mengalami hal ini?

Ini menurut pendapat saya ya..

Pelajaran hidup yang bisa saya ambil adalah, bersikap adil ke semua anak. Karakter anak berbeda-beda, tapi kita tetap tidak boleh memberikan kasih sayang lebih banyak ke anak yang lebih baik perilakunya. Lalu biasakan anak berpendapat, dan kita sebagai orang tua biasakan mendengarkan anak-anak kita. Jangan pernah berhenti belajar tentang parenting, beruntung zaman sekarang bisa dengan mudah mendapat informasi tentang parenting. Katanya sih, anak-anak yang memiliki masa kecil yang bahagia kelak ketika dewasa juga lebih bahagia.

Itu pelajaran yang bisa diambil sebagai orang tua. Lalu sebagai anak, kalau kita memang memiliki luka masa kecil sebisa mungkin coba menerima, memafkan orang tua kita. I know, tidak semudah itu. Tiap orang pun berbeda, tidak bisa disamakan. Seperti kerabat saya ini, beberapa kali saya tanya "apa sih susahnya memafkan orang tua sendiri?". Tapi setelah saya cari tau tentang inner child, ternyata ya memang mudah buat kita, tapi belum tentu untuk orang yang melaluinya. But when you're ready to forgive, just do it. Mungkin orang tua kita juga mengalami masa kecil yang berat, dan zaman dulu susah untuk mendapat informasi tentang parenting, jadi mereka juga tidak tau harus bagaimana. Untuk masa kini, kita yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Mau hidup lebih bahagia? Berdamailah dengan masa lalu. Pasti akan butuh waktu, tapi tetap mencoba ya. Kalau tetap merasa sulit, konsultasi dengan ahlinya.

Dan ini opini saya tentang siblings. Dalam kisah kakak beradik ini, sejujurnya saya tidak melihat kasih sayang yang tulus antar saudara. Maaf kalau salah ya, ini pendapat saya sebagai orang lain. Mungkin karena sejak kecil mereka tidak dibiasakan untuk saling sayang, saling perduli dengan sangat tulus, dan mengungkapkan bahwa memang perduli. Mereka care ya karena mereka 'kakak adik'. Karena kalau kakak adik benar-benar saling sayang dengan tulus, sekesal-kesalnya atau sebenci-bencinya kita atas sikap saudara kita, ketika saudara kita dalam kesulitan kita akan tetap care. Apapun yang terjadi, akan tetap saling membantu. Atau setidaknya support dengan perhatian, show them that we really care. Dan ini tidak terjadi dalam keluarga ini. Sejujurnya, saya yang sedih lihatnya tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Terus bagaimana sikap kita menghadapi orang yang memiliki luka masa kecil. Tetap support dalam hal yang positif. Coba memahami dan tidak mengabaikan emosi dan perasaannya. Jangan pernah meremehkan dan membandingkan dengan orang lain. Doakan agar dilembutkan hatinya, mau membuka diri. Walaupun menurut kita sikapnya kurang tepat, tetap hargai dan hormati keputusannya. Juga sabar dan ikhlas..

Dalam kisah ini, orang lain pasti menilai sang kakak anak yang tidak berbakti, tidak tau terima kasih, tidak mau memaafkan; tanpa tau apa yang sudah dilaluinya selama bertahun-tahun. Atau melihat sang kakak ini seperti menghindari masalah; tanpa tau bagaimana dalam hatinya semua emosi berkecamuk. Jangan begitu kalau perduli dengan orang yang mengalami hal sulit ya, lain hal kalau memang tidak perduli. Jangan sampai kita berkata' "gitu aja ga bisa sih? Dia aja bisa" atau "sampai kapan mau menghindar terus? usaha dong". Bukannya membaik, bisa jadi perasaannya makin kacau karena dibandingkan dan didesak. Apapun sikapnya, hargailah. Dia pasti punya alasan untuk itu. Mungkin memang butuh waktu, ketimbang dipaksakan lukanya tidak akan sembuh-sembuh.

Saya pernah bertanya pada ahlinya, bagaimana menghadapi seseorang seperti ini, yang masih denial atas apa yang terjadi pada dirinya. Jawabannya, orang yang mengalami kisah seperti itu memang rentan dengan trust issue. Kita harus bisa jadi orang yang dipercaya olehnya, no judge. Jika sudah perlahan membaik, bisa diajak untuk konsultasi dengan ahlinya.

Komunikasi adalah koentji, for any relationships. Orang tua-anak, kakak-adik, suami-istri, sahabat. Bicara dan dengarkan, agar tidak ada salah paham dan bisa saling memahami.

----------

Begitulah kisahnya, semoga bisa saling mengambil hikmahnya ya. Kalau ada yang mau sharing bagaimana berhasil melalui luka inner child atau membantu orang lain melaluinya, boleh yaa.. Bisa comment atau DM by email ke saya.

Oh ya, satu hal lagi yang saya ambil hikmahnya. Jangan karena satu kesalahan seseorang lalu kita menganggap semua kebaikannya hilang dan orang itu jadi buruk di mata dan hati kita. Karena itu akan membuat kita jadi seorang pembenci. Tetapi lihatlah satu kebaikan diantara banyaknya keburukan orang itu, karena itu akan membuat kita jadi seorang pemaaf.

Thank you for reading, have a good day :)

Thursday, 18 June 2020

Konsumsi Protein Ketika Hamil

Sebenernya ga pas hamil aja sih ya tubuh kita butuh protein, cuma mau sharing aja nih bedanya sama kehamilan pertama dan kedua saya..

Jadi karena pas bulan ke 5 BBJ kurang, dan untuk boost BBJnya harus banyak makan protein, saya mulai konsumsi protein dalam jumlah yang lebih banyak dibanding biasanya. Dan makan protein setiap hari. Awalnya cuma telur aja satu butir sehari, trus lama-lama makan daging merah, ikan, dan bahan makanan lain yang mengandung protein tinggi. Alhamdulillah di bulan ke-6 BBJ udah normal.

Trus di bulan ke-7 BBJ lebih dari rata-rata usia kandungannya, sepertinya karena saya konsisten konsumsi protein tiap hari. Dan yang bedain sama kehamilan pertama dan kedua, BB saya ga naik begitu banyak tapi BBJnya naik. Inget banget pas masuk trimester ketiga, dulu itu BB saya naiknya cepet banget, tapi ke bayinya ga terlalu. Kebalikannya kalo hamil yang sekarang. Yang ini saya emang banyakin makan protein ketimbang karbonya sih. So, kesimpulan saya dan yang terjadi di saya adalah : kalo jumlah karbo atau gula lebih banyak, larinya ke badan saya. Tapi kalo konsumsi jumlah proteinnya lebih banyak, larinya ke bayinya. Telat banget kan baru realize sekarang, hahahaaa..

Pantesan liat artis yang pola makannya bener, pas hamil badannya segitu-gitu aja tapi BBJnya normal. Ternyata emang kuncinya di pola makan gengs.. Pas hamil kak Nay BB saya naik 25 kg, pas Arga naik 22 kg. Yang ketiga ini usia kandungan 7.5 bulan baru naik 13 kg. Sampai lahiran nanti ga sampai 20 kg sih kayaknya. Kayaknya yaaa.. Semoga konsisten tetep lebih banyak konsumsi protein dibanding karbo atau lainnya. Tapi saya tetep sering makan manis juga ngemilnya. Cuma kurang olahraga aja ini. Sejak pandemi mager banget mau keluar, karena sampai rumah kudu mandi dan bebersih kan.

Okeh, itu aja random thought saya kali ini. Untuk manfaat protein ketika hamil bisa googling aja ya. Hihihiii..

Tuesday, 2 June 2020

Hasil USG Fetomaternal

Aku mirip siapa nih? Mirip kakak Naya apa mas Arga? Hihihii..
Tiga kali hamil, baru kali ini USG Fetomaternal. Kalo ga karena harus cek posisi plasenta ga akan juga sih, hahahaa.. Etapi ternyata bisa liat detail banget ya, amazed saya. Semua organnya keliatan, sampai jantungnya udah terbentuk 4 ruang juga keliatan. Dan alhamdulillah semuanya normal dan baik. Bekas SCnya yang di dalam juga bagus, ga keliatan.

Trus plasentanya gimana? Alhamdulillaaaahh banget sekarang plasentanya udah bergeser ke atas. Semula di bagian bawah depan, sekarang di atas belakang. MasyaaAllah.. Beneran ya kekuatan do'a adalah segalanya. Selama 2 minggu saya, Panda, kakak dan masnya ngomong ke adik bayi juga. Saya ga expect dalam waktu 2 minggu bisa bergeser sejauh itu. Emang sih ya rahimnya membesar, tapi perut saya membesarnya ga sedrastis itu juga. Sayangnya ga bisa compare hasil USG before afternya, karena posisi pengambilan gambarnya beda. Bersyukur banget deh saya pokoknya, jadi lebih tenang mau aktivitas juga. Bisa tetep ngurusin anak-anak dengan leluasa, ga ketar ketir takut pendarahan.

Kemarin saya nanya ke dokternya, udah begini bisa bergeser lagi ga posisinya. Kata dokternya sih kemungkinannya kecil, karena usia kandungannya udah makin besar juga. Semoga semuanya berjalan aman dan lancar, baby inside juga sehat terus sampai waktunya nanti.

Oiya, mau sharing saya USGnya dimana, sama dokter siapa, dan biayanya yaa. Kali kali ada yang butuh referensi 😁
Saya USG Fetomaternalnya di RS Hermina Bekasi Barat, karena rekomendasi dari obgyn saya di sana. Untuk dokternya, sebenernya hampir semua obgyn di sana sub spesialis fetomaternal, cuma untuk USG feto itu cuma ada tiga dokter kalo ga salah yaa. Saya telfon ke call centernya untuk hari Sabtu cuma ada 2 dokter. Dr. Yudianto sama dr. Yuditya, karena tak tau dan tak cari info dulu ya random aja. Saya daftar untuk dr. Yudianto. Pas daftar via call center dapet nomer antrian 22, tapi pas hari H nomer antriannya per kedatangan. Per pasien cukup lama sih, mungkin karena emang periksanya detail yaa. Dokternya sih oke.. Ramah, detail, jelasin gimananya, humoris, enak buat konsultasi. Abis itu googling ternyata salah satu dokter rekomendasi ibu-ibu juga. So, mungkin bisa jadi dokter pilihan untuk yang mau cek di RS Hermina Bekasi Barat yaa..

Untuk biaya, kemarin habis Rp 1,123,000. Detailnya sih cuma untuk dokter sama USG aja, ga ada biaya adminnya. Untuk dokter sub spesialis Rp 394,000 dan USG 2D print feto Rp 729,000. Padahal cek 3D juga, dan print yang 3D satu lembar. Tapi ga ngerti di chargenya USG 2D feto aja.

Gitu deh cerita USG Fetomaternal ini. Yang penting sekarang ku legaaa.. Mudah-mudahan adik bayi sehat terus sampai waktunya tiba ya. Thank you for reading, semoga bermanfaat :)

Monday, 18 May 2020

Kemungkinan Plasenta Previa

Haii.. Cukup lama ga update blog karena kemageran yang luar biasa. Gimana puasa tahun ini guys? Berasa beda ya karena pandemi ini. Tapi yasudah dijalanin aja, dan yang penting kita tetep sehat semua. Aamiin..

Update kehamilan kali ini adalaaahh.. Plasentanya turun ke bawah, hiks.. Selalu dapet surprise tiap control dari adik bayi, hehehee.. No, I won't complain for this. Saya percaya setiap kehamilan, setiap anak pasti punya ceritanya sendiri. Apapun itu kita sebagai orang tua harus legowo jalaninnya kan. 

Hamil kali ini beneran bikin deg-degan tiap control. Selalu kepikiran, "gimana ya keadaannya kali ini?". Alhamdulillah air ketuban dan BB janin udah aman, detak jantung bayi normal. Kepala, lingkar perut, tulang paha, alhamdulillah normal. Eehh.. ndelalah plasentanya turun ke bawah. Ga nutupin jalan lahir sih, dan bukan kategori plasenta previa partialis juga. So far emang letaknya aja di bagian bawah rahim, low-lying istilahnya. Jadi kemarin dokternya nyaranin untuk USG Fetomaternal. Biar keliatan detailnya gimana. Karena walaupun saya ga akan melahirkan normal, tetep harus diliat persisnya gimana biar aman pas operasi SC.

Di dua kehamilan sebelumnya alhamdulillah ga ngalamin kendala yang berarti, tapi yang ini sungguh spesial. Pernah baca sekilas tentang plasenta previa, sekarang baca setiap artikel buat cari tau tentang hal ini. Ada beberapa hal yang ada di pikiran saya, dan ini poin-poinnya..

Akibatnya apa ya kalo plasentanya di bawah?
Semakin besar kehamilan, bisa mengakibatkan pendarahan. Jadi harus bedrest, ga boleh banyak beraktivitas. Karena kondisi rahim harus relaks, janinnya ga boleh menekan plasentanya. Trus saya langsung kepikiran, yang ngurus kakak sama masnya siapa. Huhuhuu.. Maunya ga ngerepotin siapa-siapa..

Penyebabnya apa ya? Apa ada yang salah di kehamilan ini?
Penyebabnya ga ada dan ga ada yang salah selama kehamilan ini, karena itu proses alami. Tapi ada beberapa faktor yang bikin kita beresiko mengalami plasenta previa ini. Untuk saya, faktor resikonya karena udah pernah operasi rahim, dua kali operasi SC.

Bisa ga ya plasentanya naik lagi, caranya gimana?
Bisa, dengan adanya mukzizat dari Allah SWT. Hehehee.. Jadi ya banyak berdoa aja, sama coba ajak ngobrol bayinya. Karena emang ga ada caranya. Dan di usia kehamilan 28 minggu biasanya udah netap, ga bisa bergeser lagi. Jadi menurut insting saya, saya masih ada waktu 3 minggu sampai usia kandungan 28 minggu nanti. Mau banyak berdoa aja biar bisa bergeser ke atas, karena banyak yang harus saya kerjain. Ga mungkin kalo harus bedrest, hikss..

Apa ya yang harus dilakuin?
Jangan capek-capek, jangan olahraga berat, kurangin berdiri sama jalan. Santai-santai aja kalo gitu yaa.. Aktivitas seperlunya aja, jangan berlebihan.

Kesimpulan dari artikel-artikel yang saya baca, ini belum bisa dibilang Plasenta Previa. Bisa ditetapkan begitu kalo usia kandungannya udah di 28 minggu. Makanya saya kasih judulnya 'kemungkinan', karena emang belum pasti. Nanti abis lebaran mau USG Fetomaternal dulu, akan diupdate lagi ya kelanjutannya. Minta doanya yaa man temans, semoga plasentanya bisa bergeser dan semua baik-baik aja sampai waktunya tiba. Aamiin.. Thank you for reading 😊

Monday, 24 February 2020

Transfusi Ferritin

Jadi, hasil lab di awal kehamilan kali ini nunjukkin kalo HB saya rendah. Nilainya 10.2 dari nilai minimal 11.7. Pantesan saya sering kliyengan, ga kayak hamil sebelumnya. Turunnya ga begitu jauh sih, cuma karena lagi hamil, janinnya butuh zat besi biar bisa berkembang dengan baik, akhirnya cek lab lagi untuk tau kadar Ferritinnya.

Ferritin apa sih? Saya juga baru denger ya kali ini, hahahaa.. Hasil baca-baca, ferritin itu protein dalam tubuh yang mengikat zat besi. Kalo mau tau kadar zat besi dalam tubuh, ya cek ferritin ini. Bisa dibilang juga dia cadangan zat besi dalam tubuh, yang dikeluarkan saat tubuh butuh zat besi. Nah hasil cek ferritin kemarin ternyata di bawah batas normal juga. Nilai ferritin saya 11.1 dari batas normal 13. Ga jauh banget juga turunnya, tapi dokter saya saranin untuk transfusi buat naikin ferritinnya. Yaa namanya orang tua ya, demi si janin dalem perut ini mau deh transfusi. Gimana pun butuh buat pembentukan organ dan sel tubuh kan, mau yang terbaik dong pastinya.

Cari-cari info proses, efek dan tentu harganya, masih belum banyak yang share. Jadi tujuan saya posting ini sharing buat yang mungkin butuh info soal transfusi ferritin ini yaa..

Nama obat untuk nambah zat besi ini namanya Venofer. Biasanya satu ampul isinya 5 ml, setara dengan 100 mg iron sucrose complex. Nanti obat ini dicairin (dicampur) sama NaCl. Kemarin saya 100 ml NaCl dicampur 2 ampul Venofer. Baca-baca ada yang 3 ampul juga, tergantung kebutuhannya kayaknya. Untuk prosesnya, kita akan dipasang selang infus. Pertama dikasih infus biasa dulu kira-kira setengah botol (50 ml), trus diganti sama campuran Venofer + NaCl tadi. Test dose dulu 15-30 menit, buat tes ada alergi sama obatnya atau ga. Kalo ga ada, kecepatan tetesannya dicepetin. Biar dicepetin juga, buat ngabisin 1 botol infus itu butuh waktu 3-4 jam 😂. Terserah deh mau sambil makan, main game, scrolling sosmed, nonton darakor, paling enak dibuat tidur. Hahahaa.. Karena cairannya agak kental, ga secair NaCl aja, berasa pas ngalir masuknya.

Abis itu, dibilas lagi deh sama sisa NaCl yang sebelumnya. Biar semua obatnya bener-bener masuk. Kalo saya, diresepin buat 4 ampul. Jadi transfusinya dua hari berturut-turut. Ga perlu nginep, selesai transfusi langsung pulang. Tapi tetep kena charge ruangan pemakaian kurang dari 6 jam. Ini pun saya kaget pas ditagih, kok banyak banget. Sementara obat dan alkes udah saya tebus duluan. Ga taunya kena charge ruangan juga, kirain gratis. Wakakakk.. *maunyaa

Untuk efeknya, yang saya baca bisa bikin mual bahkan sampai muntah. Makanya biasanya dikasih pas trimester 2. Kemarin saya transfusi pas usia kandungan 12 minggu 5 hari. Di saya sih ga ada efek apa-apa, cuma pas selesai agak pusing aja. Tapi itu efek tiduran selama 4 jam kayaknya. Eh sempet mual sedikit dengs, tapi yaudah gitu aja. Setelah beberapa jam transfusi, baru bedan berasa agak segeran dibanding sebelumnya. Cek kadar ferritinnya 2 minggu setelah transfusi, jadi nanti hasilnya gimana akan diupdate di postingan lainnya ya. Saya tetep jaga asupan zat besinya, at least satu hari makan yang mengandung zat besi tinggi minimal 100 gram. Plus sangobion satu kapsul sehari.

Terakhir, harganya. Gaes, ternyata abisnya banyak juga loh. Hahahaa.. Untung ada fasilitas kantor suami, jadi aman deh. Saya rinci yaa.. Harga mungkin beda-beda di tiap rumah sakit, dan harga ini per Februari 2020.
1. Venofer 5 ml/100 mg : per ampul Rp 276,210
2. Alkes (kebutuhan untuk pasang infus) : Rp 174,000
3. NaCl 100 ml : Rp 25,245
4. Ruang obeservasi < 6 jam : Rp 566,000
5. Jasa & administrasi : Rp 105,000
Total untuk satu hari (dengan 2 ampul Venofer) : Rp 1,381,730. Dua hari ya hampir 2.8 jeti. Pusiang kepala kan liat billnya, hahahaa..

Emang anak terakhir ini mahal bener dahh.. Sehat terus ya dek, bismillah jangan ada transfusi lagi. Baca artikel sih emang semakin tua kadar ferritinnya berkurang. Jadi ya karena faktor U juga kayaknya nih. Mungkin dulu pas hamil kak Nay sama Arga juga kurang, tapi ga berasa dan hasil HBnya masih oke. Karena dua bocah itu pas udah lahirnya defisiensi besi. Kata DSA-nya sih udah kurang zat besi dari saya hamil.

Tips buat yang persiapan hamil sama lagi hamil, coba banyakin makan makanan yang mengandung zat besi, buat jaga-jaga aja. Karena kalo lagi hamil ga akan kelebihan kayaknya ya, kan diserap sama janinnya juga. Semoga sharingnya bermanfaat yaa, thank you for reading 😉

Friday, 27 December 2019

Gunung Mas, Puncak, Bogor

Holaaa.. Liburan sekolah udah jalan kemana nih? Kita mau ajak anak-anak liburan tapi maunya sesuatu yang baru, yang mereka belum pernah. Akhirnya minggu lalu kita ke Gunung Mas, Puncak. Ajak anak-anak tea walk, kan belum pernah tuh..

Saya terakhir ke Gunung Mas tahun 2010, tea walk bareng keluarga besar. Seinget saya di sana ya cuma area kebun teh, ada air terjunnya juga, untuk wahana lainnya apa ya.. Kolam renang aja kayaknya sih, sama penginapan. Nah sekarang ada area bermainnya juga, namanya INDJANIE HILLS. Tapi kemarin ga sempet cobain dan fotoin. Karena ngejar waktu dan rempes jagain bocah cilik cah lanang, hahahaa.. Soalnya jalannya masih berbatu dan tanah gitu kan, takut kesandung kalo ga dijagain. Jadi saya ambil foto dari webnya aja ya, btw bisa klik link ini buat ke webnya : INDJANIE HILLS.


Seru ya kelihatannya? Sayang ga sempet coba, mungkin next time kalo ke sana lagi. Di Indjanie Hills ini wahananya ada yang memacu adrenalin kayak offroad, ATV, paint ball, outbound, flying fox. Ada juga area buat selfie, mainan anak-anak, dan mini farm gitu. Sayang ga sempet liat harganya juga, tapi sepertinya masih terjangkau sih.

Oiya, harga untuk masuk ke area Gunung Masnya saya lupa persisnya. Tapi kemarin kita bayar Rp 54,000 untuk 3 orang plus 1 mobil. Alhamdulillah anak-anak happy banget jalan menyusuri kebun teh, seru dan indah pemandangannya. Untungnya anak-anak saya emang hobi jalan dan coba hal baru, jadi mereka ga ngeluh jalan gitu. Kita bolak balik dari parkiran ke parkiran lagi cuma 2.7 km, tapi lumayan juga ternyata. Karena jalannya naik turun, berbatu. Sempet main layangan juga di lapangan, lokasinya di area bawah. Kemarin beli layangan 20 ribu, bubble 10 ribu. Kakak sama Panda main layangan, ibun nemenin adek main bubble. 


Bisa jadi pilihan yaa guys kalo mau ajak anak-anak liburan. Murah meriah, bisa dapet pengalaman seru, plus cara oke ngabisin energi anak-anak. Apalagi buat anak kinestetik kayak anak-anak saya, hahahaa.. Nature is the best place for them 😃

Monday, 16 December 2019

Sekolahin Anak di Sekolah Swasta = Gaya Hidup?

Hasil gambar untuk school cartoon

Beberapa waktu lalu pernah denger percakapan ibu-ibu tentang sekolah anak. Percakapannya tentang kenapa sekolah swasta, khususnya SD, saat ini lebih laris dibanding sekolah negeri. Mereka bilang karena sekarang trendnya begitu. Menurut kalian para orang tua, gimana?

Kalo menurut saya, tergantung sudut pandang dan tujuan masing-masing orang sih ya. Saya pribadi pilih Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) buat kak Nay ya karena usia sekolah dasar perlu dibentuk karakternya melalui agama. Kan di rumah juga bisa dibangun karakter dan akhlaknya? Iya sih, rumah tetep sekolah pertama buat anak-anak. Tapi saya merasa ilmu agama saya belum cukup untuk itu. Hahahaa.. Dan yaa namanya anak-anak ya, kadang sama orang tuanya sendiri suka ga denger dikasih tau ini itu. Justru sama orang lain (guru di sekolah) mereka lebih nurut kan.

Dan menurut saya usia sekolah dasar itu penting banget sih dididik dasar agamanya, usia segitu masih gampang nyerepnya. Apa yang mereka pelajari di usia itu akan jadi dasar pegangan hidup ketika mereka makin dewasa. Jadi lebih baik pilih sekolah yang berbasis agama. Dengan catatan, ada biayanya. Tau sendiri dong ya sekolah swasta sekarang mihil bingit cuuyy.. SD aja udah puluhan juta biaya masuknya, SPP di atas 1 juta. Belum ekskul ples kegiatan lain. Tapi bukan berarti yang sekolah di swasta itu orang berduit, saya contohnya yang pas-pasan ini. Hihihii.. Buat saya dan suami, pendidikan anak itu nomer satu. Gimana pun caranya akan diusahain ada biayanya. Toh kalo kita berusaha untuk hal yang baik Allah SWT pasti kasih jalan kok..

Lagi pula, nyekolahin anak di sekolah yang baik agamanya salah satu ikhtiar kita biar anak-anak tumbuh jadi orang yang punya akhlak baik. Karena anak-anak adalah titipan yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Cieelah, hahahaa.. Udah kayak orang bener aja ibun dah 😂

Nanti pas SMP SMA juga anak-anak saya bakal disekolahin di sekolah negeri, usia segitu udah bisa pilah pilih mana yang baik mana yang buruk. Yang penting dasar agamanya udah ada. Eiya, tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau men-judge pihak mana pun yaa.. Hanya sekedar opini aja, tiap orang tua tau mana yang terbaik buat anaknya kok. Dan apa pun pilihan itu ga akan salah selama niat dan tujuannya baik 😊

Tuesday, 19 November 2019

Hutang Pengasuhan

Judul ini terinspirasi dari postingannya @ummikiky di Instagram. Liat postingannya membuat hasrat menulisku muncul, hahahaa.. Mau cerita dan sharing aja sih sebenernya, karena pas baca langsung mikir "ooh iya juga ya..". Jadi saya mau sharing aja nih gimana cerita parenting saya sama suami.

Apa sih yang dimaksud hutang pengasuhan ini? Jadi cara kita diasuh sama orang tua kita dulu, itu saaaangat berpengaruh sama pola pikir dan sikap kita ketika setelah menikah dan punya anak. Saya kasih contoh dengan mengutip postingan @ummikiky ya.. Kalo hutang pengasuhan dalam diri seseorang udah lunas, dia bisa memberikan pola asuh yang baik ke anaknya. Ada lagi yang memiliki lebih banyak hutang pengasuhan, jadi pribadi yang tempramental, suka menghindari masalah, atau belum paham benar tugas untuk mengimbangi pasangannya. Nah, kurang lebih itu yang dimaksud hutang pengasuhan. Semacam efek dari apa yang ga didapat waktu kita kecil, kayak innerchild gitu lah ya.

Di kisah saya, ini nyata banget. Jadi setelah kak Nay lahir ke dunia, kontribusi suami dalam ngurus anak itu kurang. Mau sih mau, tapi harus diminta tolong dulu, ga ada inisiatif buat bantu. Saya sampai sempet babyblues lho, malem malem setelah kak Nay tidur saya pindah kamar, nangis di pojokan dalam gelap, tanpa suara. Atau pas lagi mandi, saya nangis sambil duduk di kloset. Terjadi beberapa kali, tapi ga lama.

Pola asuh yang suami terapin makin keliatan pas kak Nay makin besar, udah banyak polah lah yaa.. Namanya anak-anak.. Tempramental banget dan bisa dibilang bapak yang galak lah. Setiap saya coba tahan biar ga marah ke kak Nay, saya ikut kena marah juga. Hahahaa.. Saya baca banyak artikel parenting, belajar pelan-pelan. Lalu saya ajak ngobrol suami, minta tolong biar lebih sabar, biar bisa bonding juga kan ke anaknya. Karena kak Nay itu sampai ga mau ngomong lho ke bapaknya, saking takutnya. Suami saya kasih tau artikel yang dia perlu tau, trus suatu ketika dia jawab "panda ga pernah begitu waktu kecil". Hmm.. oke saya tau jawabannya.

Karena udah baca artikel, saya tau kalo pola asuh itu berulang. Apa yang kita dapet dari orang tua kita, akan kita terapin juga ke anak kita. Akan begitu seterusnya. Pilihannya mau stop di kita atau dibiarin aja sampai anak cucu cicit kita? Akhirnya saya ajak diskusi pelan-pelan, kasih tau efeknya kalo anak dikerasin, dan qodarullah itu keliatan dari sikapnya kak Nay. Ada kejadian yang bikin suami sadar, bahwa sikapnya salah. Bahwa anak butuh sosok orang tua yang baik, untuk melahirkan anak yang baik juga.

Lalu, kita jadi kayak sekarang salah orang tua kita dong? Ya ga juga.. Saya kutip dari IGSnya @ummikiky yaa..
Tentang Qadha dan Qadar.
Bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita ada ketetapannya. Tetapi respon kita terhadap ketetapan itu yang akan diminta pertanggungjawabannya.
Misalnya, kita terlahir dari keluarga yang kurang harmonis. Ini adalah ketetapan Allah. Amal kita gak berkurang karena ketetapan ini.
Respon kita terhadap ketetapan ini, misalnya mau ngedumel sepanjang hidup, atau mau mencoba memaafkan dan memperbaiki sikap nantinya yang akan dihitung nantinya.
Kita masing-masing mungkin punya hutang pengasuhan, butuh waktu dan kesabaran untuk melunasinya. Buat pasangan ya saling melengkapi dan mengingatkan aja kali ya. Saling memperbaiki diri demi buah hati tersayang. Tetap sabar walaupun pasangan belum juga berubah. Katanya mah, kesabaran itu proposal ke Allah untuk membolak balikkan hati pasangan. Iya juga ya, hehehee.. Saya dan suami pun masih berusaha, masih suka debat soal pola asuh anak-anak. Kadang eling kadang ga. Hahahaa.. Tapi alhamdulillah sekarang udah jauuuhh lebih baik. Bismillah terus belajar jadi orang tua dan kasih yang terbaik buat kak Nay & Arga. Semoga ketika kalian besar nanti, ga ada hutang pengasuhan ya ❤

Sunday, 3 November 2019

Review Emina Bright Stuff Moisturizing Cream

Mau review ala ala lagii.. Belakangan lagi sering juga beli produknya Emina, entah kenapa lebih cocok di muka saya. Padahal produk Emina ini target marketnya remaja anak sekolah kuliah gitu. Apa mungkin saya masih termasuk muda? Hahahahaa.. Ya kali bu, umur udah kepala 3 juga 😂

Ini udah tube kedua moisturizing creamnya. Awalnya beli karena moisturizer saya yang HL habis dan cari dimana-mana lagi kosyong. Pas ke minimart liat-liat ada ini, trus plus SPF 15 juga. Saya pikir lumayan deh dipakai kalo pagi aja, toh kalo pagi keluar cuma drop anak di sekolah aja, belom panas-panas banget kan. Jadi cukup lah SPF 15, biar ga usah double double pakai sunscreen lagi. Sunscreen pakainya cukup siang pas jemput anak, pas lagi terik-teriknya. Dipikir-pikir sayang juga pagi pakai sunscreen cuma keluar sebentar doang. Mamak irit mode : on ini, hohohoo..

Kemasannya mini, isi 20 ml. Enak dibawa kemana-mana. Di kemasannya ditulis, "formulanya mengandung enkstrak summer plum yang dikenal sebagai anti-pollutant, vitamin E, dan moisturizing agent untuk wajah tampak lebih sehat dan cerah merona. Pelembab ini juga mengandung perlindungan UV A & UV B untuk melindungi kulitmu dari kusam".

Untuk teksturnya creamy, pas dipake enak ringan gitu di muka. Berasa melembabkannya.. Udahannya juga jadi kayak pakai bedak gitu, keliatannya matte tapi di kulit ga kering. Saya sih suka & cocok, makanya beli lagi 😆

Ini before-afternya yaa.. Nah karena pas udah pakainya kayak pakai bedak, di foto jadinya keliatan lebih pucet ya ketimbang belum pakai. Hehehee.. Tapi tambahin lipbalm atau lipstick dikit aja udah oke kok.

Sekian reviewnya, semoga bermanfaat yaa..

Thursday, 31 October 2019

Review Purbasari Oil Control Matte Powder

Haii.. Kali ini mau review ala ala beauty product lagi. Jadi beberapa waktu lalu compact powder saya habis, terus mau coba produk lain aja. Lirak lirik di Hydra Seriesnya Purbasari ada Oil Control Matte Powdernya. Kebetulan compact powder saya sebelumnya habis, mau coba lah produk ini. Kali-kali cocok, karena yang Ultra Smooth Brow Linernya saya cocok. Pas kemarin eyebrownya habis, sekalian lah beli si bedak ini.

Bagian belakang kardusnya, ada keterangan warna, exp. date, dll. Malah lupa foto depannya :D
Kemasan bedaknya
Dari kemasan kardusnya terlihat mewah khas Hydra Seriesnya, warna hitam ada gold linenya gitu. Tapi kemasan bedaknya kayak ringkih gitu, dari bahan plastik yang tipis gitu. Buat saya sih ga masalah, mungkin jangan sampai jatuh aja ya, takut retak. Hehehee..

Bagian dalam bedaknya
Untuk tekstur bedaknya,pas di tap ke sponsnya ada sisa serbuk bedaknya gitu. Apalagi kalo pakai brush, kemana-mana serbuknya. Jadi kayak ga bener-bener compact. Oiya, saya beli yang warna Honey Beige. Cocok buat warna kulit kuning langsat kayak saya. Liat macam warnanya sih warna kulit wanita Indonesia, ada yang warna gelapnya juga.

Ini before-after pemakaian di wajah saya ya. Yang kiri baru pakai sunscreen aja, keliatan kan agak oily dan kusam gitu. Nah yang kanan setelah pakai bedaknya, satu layer aja. Langsung matte yess.. Untuk ketahanan bisa 4-5 jam kalo di saya. Itu kombinasi di outdoor indoor ya. Kalo full panas-panasan kayaknya cuma 2 jam..

Oiya, saya beli di official storenya Purbasari di Shopee. Untuk harganya hanya 24 ribu rupiah saja. Murah meriah yaa.. Overall sih oke oke aja buat saya, karena saya ga butuh yang tahan seharian gitu. Sehari-hari mah cuma anter jemput anak, kalo weekend paling lama 6 jam keluar rumah. Hahahaa.. Belum coba dipakai travelling sih, nanti diupdate deh ya kalo udah dicoba.

Semoga bermanfaat ya review ala ala nya, thanks for reading! ;)

Saturday, 5 October 2019

Rezeki Kita Gimana Ya?

Mau cerita soal rezeki yah.. Postingan ini ga ada maksud apa-apa, beneran random thought aja. Hehehee..

Masih ada yang ga percaya kalo rezeki itu udah diatur? Awalnya saya juga gitu, tapi perlahan yakin sama Sang Pencipta eh malah dateng rezekinya dengan tidak terduga. Dulu waktu baru nikah, saya masih kerja. Total gaji saya dan suami, 50% buat cicilan rumah dan mobil. Karena masih belum punya tanggungan (anak), jadi masih bisa sisihin buat nabung dan ada budget buat jalan-jalan. Lalu saya hamil dan resign. Kepikiran dong biaya ini itu gimana kalo pemasukan berkurang karena saya resign? Dipikirin bikin puyeng, akhirnya pasrah aja deh. Minta sama Allah SWT dibukain pintu rezekinya, yang penting cukup buat hari-hari dan control baby ke dokter. Alhamdulillah tiba-tiba gaji suami naik, setelah dua tahun mandek. Hahahaa.. Dan cukup aja loh gajinya buat hari-hari, bayar cicilan, ke dokter, plus nabung. Budget buat jalan-jalan emang berkurang, tapi diganti sama Allah SWT suami suka tugas ke luar kota. Jadi either ikut ke luar kota sekalian jalan-jalan atau uang tugasnya bisa buat jalan-jalan juga. Hamdallah..

Tahun-tahun berikutnya alhamdulillah berjalan dengan baik. Rezeki buat si kakak ada aja deh, bisa dibilang 3 tahun pertamanya kakak punya masa kecil yang bahagia. Mau apa bisa kebeli, jalan-jalan udah kemana-mana. Cash flow lancar, finance aman. Btw, buat saya dan suami, anak-anak harus punya masa kecil yang baik dan bahagia. Salah satunya ya hiburan atau jalan-jalan. Karena travelling itu banyak manfaatnya, dan kalo punya masa kecil yang bahagia, insyaaAllah pas gedenya punya kepribadian yang baik dan jadi orang yang bahagia juga. Jadi bisa dibilang jalan-jalan itu wajib, minimal setahun sekali lah ya.. Baik juga kan buat ortunya, hahahaa.. Balik lagi ke topik, keuangan kita lancar sampai saya hamil si adek. Kemudian dikasih ujian sama Allah SWT..

Pas hamil si adek ada masalah keluarga, jadi kita harus mengencangkan ikat pinggang. Cash flow mulai berantakan, dua bulan sebelum lahiran tabungan untuk lahiran habis. Maknyus ga tuh bayar buat SC 30 juta gimana, hahahaa.. Pusing cyinn.. Alhamdulillah ada lagi rezekinya, walaupun harus ngutang dulu. Yang penting lahiran si adek amann.. But since then, finance kita chaos banget. Gali tutup lobang. Problems seems never ends. Kelar satu, belum bangkit eh ada lagi. Ga jarang debat soal uang karena hari-hari juga harus makan kan. Lalu kita menyalahkan ini itu, seakan ga terima atas apa yang terjadi. Tapi akhirnya kita ikhlas, balik lagi ke Allah SWT, dijalanin aja.

Karena hal ini kita bener-bener diajarin hidup sederhana dan memanfaatkan semua hal dengan baik. Ya sebelumnya hidup foya foya atau enak banget juga ga, tapi kalo mau apa dan kemana bisa. Yang selalu ada dalam doa saya, yang penting anak-anak punya hidup yang baik dan layak, punya masa kecil yang bahagia, itu aja udah cukup buat saya. Allah SWT maha baik, rezeki untuk anak-anak adaa aja. Entah diajak jalan-jalan eyangnya, dibeliin mainan atau barang dari uwaknya, dikasih sesuatu sama keluarga yang lain atau teman. Beneran rezeki datang dari siapa dan mana aja. Ga semua apa yang anak-anak mau bisa terpenuhi, tapi ya baiknya emang gitu kan. Hehehee.. Yang penting anak-anak masih bisa jalan-jalan, liat dunia luar, jadi bisa dapet banyak hal positif.

Jadi jangan ragu ya, rezeki itu udah diatur. Kalo ga sesuai sama apa yang kita mau, ya ikhlas aja. Pasti ada hikmah di setiap semua cobaan. Sampai sekarang pun hidup kita masih belum baik-baik aja, bismillah semuanya cepet selesai. Dijalanin aja apa yang ada, yang penting tetap berusaha dan berdoa. Biar tenang juga jalanin hidupnya, hihihii.. Sekian ya random thought a.k.a curhatnya 😂
Thank you for reading 😉

Thursday, 19 September 2019

Review Botanina


Beberapa bulan lalu cari-cari produk essential oil lokal buat home and health treatment, nemu beberapa brand tapi saya pilih coba Botanina ini. Mau review setelah beberapa bulan pakai, jadi beneran ya reviewnya. Hahahaa.. Pertama beli paket yang kids (more than 2 years), buat anak-anak. FYI, Botanina ini produknya beda-beda buat newborn, infant, kids & adult. Biasanya satu paket itu isinya : All Purpose Healing Oil, Cold & Flu Aromatherapy Spray, Bugs Repellent Spray dan Comforting Oil. Direview satu satu yaa..

1. All Purpose Healing Oil
Ini salah satu andalan saya, soalnya jadi penyelamat di kala jidat Arga benjol dimana-mana. Hahahahaa.. Maklum ya, anak lakik usia 2 tahunan, mana bisa diem. Seminggu bisa beberapa kali kejedot atau jatuh. Nah fungsi oil ini sebagai anti bakteri, anti jamur, antiseptik, anti inflamasi, analgesik, dan regenerasi jaringan kulit. Jadi kalo Arga ada yang memar atau luka, tinggal saya oles aja. Minimal 3 hari udah sembuh deh.. Kalo kegigit serangga, atau eksimnya si kakak kambuh, bisa juga oles ini. Dan bentuknya roll on, praktis.

2. Cold & Flu Aromatherapy Spray
Fungsinya udah jelas ya, bisa dipakai pas batuk pilek. Claimnya bisa untuk membersihkan virus atau bakteri dan melegakan pernafasan. Cara pakainya disemprot di baju, bantal atau selimut. To be honest, di anak-anak ga begitu ngaruh. Kalo anak-anak lagi batpil efektifnya tetep diffuse. Baunya juga cepet ilang, jadi rasanya cuma sebentar aja ngelegain nafasnya.

3. Bugs Repellent Spray
Oiya, awalnya cari essential oil ini karena pas si kakak kena DB. Cari bugs repellent yang aman buat anak-anak, biar si adek ga ketularan. Karena lagi musim banget pas bulan Maret itu kan. Efektif kah? Iya efektif kok, semprot di kulit trus ratain, ga dikerubungin nyamuk lagi. Tapi tetep harus repeat tiap 3-4 jam kalo mau terlindungi lebih lama.

4. Comforting Oil

Yang ini juga andalan saya nih.. Si comforting oil ini fungsinya melembabkan kulit, mendukung sistem imun, mengatasi masalah kulit, meredakan sakit, meningkatkan nafsu makan, dan menenangkan. Banyak manfaat dalam satu botol, makanya saya suka saya suka 😁. Kalo buat anak-anak saya suka pakein sebelum aktivitas, di telapak kaki atau sepanjang tulang belakang. Alhamdulillah jadi jarang sakit, tapi minum madu juga sih buat jaga imunnya. Trus kalo pas sakit perut, pusing, ga enak badan, saya pijet pakai oil ini.



Kemasannya pengirimannya juga unik, reusable box gitu. Pas saya beli bisa dipakai jadi celengan. Dan untuk harganya dijamin ramah di kantong, hihihii.. Bakalan mau beli juga buat yang dewasanya. Di anak-anak saya cocok deh oil ini. Semoga bermanfaat yaa reviewnya 😉